- VIVA.co.id/Dwi Royanto
Ia bahkan mampu mendorong perusahaan jamu asal Semarang ini melaju, menjadi perusahaan jamu yang disegani dan mampu menguasai 34 persen pangsa pasar nasional dan Internasional.
Meski demikian, hal itu tak mudah ia dapatkan. Anak dari putra kedua Nyonya Meneer, Hans Ramana ini harus berjuang keras ‘menaklukkan’ para pemegang saham keluarga. Selama lebih dari 24 tahun, ia menghadapi masa-masa sulit lantaran berseteru dengan keluarganya sendiri.
Kepada VIVA.co.id pada April 2009 Charles Saerang menuturkan, sebelum meninggal, Hans meminta agar Charles yang saat itu kuliah di Amerika untuk kembali ke Indonesia guna meneruskan bisnis keluarga. Charles memang menyelesaikan studinya di Miami University Ohio pada 1976 dan Master of Science Kensington University California AS pada 1976.
Tiba di Indonesia, bukan sambutan hangat yang didapat. Charles justru disambut dingin oleh keluarganya yang menjalankan usaha Nyonya Meneer sebelumnya. "Situasinya saat itu sangat sulit," katanya.
Charles yang terbiasa dengan pikiran independen ketika kuliah di luar negeri, harus menghadapi keluarganya yang tertutup. Dia dilempar ke sana kemari oleh paman dan bibinya. Ia mengaku pernah dibuang ke Ambon, Jambi, Palembang, Pekanbaru, Bali untuk menjadi tenaga pemasaran Nyonya Meneer. "Kalau tidak mempunyai komitmen yang kuat maka akan sulit dipercaya keluarga," ujarnya kala itu.Â
Berbekal komitmen, dia bertekad tak mau diremehkan keluarga ayahnya. Ibunya sempat menyarankan agar ia menjual sahamnya di Nyonya Meneer karena tekanan bertubi-tubi dari saudara-saudaranya. Mereka tak mau Charles menduduki jabatan nomor satu di perusahaan keluarga tersebut. "Bayangkan susahnya menghadapi keluarga. Itu sangat luar biasa sulitnya. Namun, saya harus gunakan kultur Timur, tidak boleh kurang ajar," ujarnya mengisahkan.
Selama 24 tahun, pertengkaran antarkeluarga tak kunjung berhenti. Sejak 1976 hingga 2000 Charles harus menghadapi sengketa keluarga. Perselisihan itu mulai dari soal ide yang ditolak hingga perebutan saham keluarga. Tak jarang, perseteruan dan perselisihan itu berujung di pengadilan.
Lelah menghadapi perselisihan yang tak berkesudahan, Charles akhirnya mengambil keputusan yang berani. Ia memborong semua saham milik keluarga. Saudara yang semula memegang operasional perusahaan jabatannya diganti menjadi komisaris. Dia kemudian menempatkan orang-orang profesional untuk mengelola Nyonya Meneer.