- ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra
Dalam industri penerbangan ada yang namanya system integrator dan second layer. Untuk system integrator, artinya, industri penerbangan mampu menghasilkan pesawat terbang secara utuh. Adapun, second layer, artinya, memproduksi komponen pesawat terbang. Dari situ, Indonesia diklaim bisa bersanding dengan Airbus dan Boeing, bisa membuat uji coba dan ekspor komponen pesawat terbang.
"Kita mati suri di system integrator akibat krisis tahun 1998 dan perjanjian dengan IMF. Namun tidak untuk second layer. Indonesia masih dipercaya membuat komponen pesawat A380," papar Jusman, yang merupakan salah satu dari Empat Sekawan pengembang N250.
Namun apakah N219 akan bernasib sama dengan N250? Jawabannya tidak. PT DI yakin jika N219 dibuat tidak berdasarkan mode melainkan fungsi dan kebutuhan. Oleh karena itu akan terus memiliki pasar meskipun di negeri sendiri.
Pengamat penerbangan yang juga Direktur Arista Indonesia Aviation Center, Arista Atmadjati, yakin bahwa dukungan pemerintah sangat berarti untuk mencegah insiden N250 terulang kembali pada N219.
“Pemerintah harus mendukung N219 karena saingannya sedikit. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak mem-backup karena ini merupakan inovasi teknologi tinggi, terobosan baru kalau kita bisa membuat pesawat. Pasarnya luas, dari domestik sampai Asia Tenggara,” ujar Arista.
Selanjutnya...Asa di Pesawat Perintis
Asa di Pesawat Perintis
![]()
N219 akan mampu bertahan jika pemerintah turut campur dan memberikan dukungan yang kuat. (Twitter/@LAPAN_RI/Donny Hidayat)
Semua pihak memiliki harapan besar dengan berhasilnya uji terbang N219. PT DI akan semakin percaya diri dengan pesawat buatan lokal. Selain itu, Lapan bisa membantu pemerintah menghubungkan banyak pulau di Indonesia dan mimpi untuk bisa memiliki pesawat sendiri pun terwujud, sedangkan Kemenhub berharap N219 bisa menggantikan pesawat perintis yang hampir semua usianya sudah tua.
Asisten Khusus Pengembangan Pesawat PT. DI, Andi Alisjahbana berkisah, butuh proses yang panjang untuk bisa membuat pesawat perintis ini. Tidak heran jika kemudian pesawat yang ditujukan untuk menerbangkan penumpang dengan jarak pendek ini rampung dalam kurun 13 tahun sejak diinisiasi. Apalagi sebelum memutuskan untuk mengembangkannya, PT DI terlebih dulu melakukan survei ke masyarakat.