- REUTERS/Muhammad Hamed
Myanmar mengatakan bahwa etnis Rohingya tidak pernah diakui di negaranya. Mereka memilih suku tersebut dinamai Bengali. Padahal diketahui, sejak lama suku Rohingya secara turun-temurun sudah berdiam di Myanmar.
Kekejaman Myanmar terhadap etnis Rohingya menjadi perhatian di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara mengirimkan bantuan kepada Rohingya yang ditampung di Cox’s Bazar, Bangladesh.
[Baca juga: Ternyata Korban Terbunuh Rohingya Mencapai 6.700 Orang]
Di berbagai wilayah terjadi protes massa di kantor-kantor perwakilan pemerintah Myanmar yang menuntut agar kekerasan terhadap Rohingya dihentikan. Muncul pula aspirasi agar penghargaan Nobel Aung San Suu Kyi ikut ditarik.
“Kekerasan, krisis kemanusiaan ini harus segera dihentikan,” kata Presiden Joko Widodo dalam keterangan pers di Istana Merdeka, 3 September 2017, sebagaimana dilansir VIVA.
![]()
Pengungsi Rohingya Saddam Hussein (23) dan Shofika Begum (18) saat merayakan pesta pernikahan di kamp Kutupalong, dekat Cox's Bazar, Bangladesh. (REUTERS/Damir Sagolj)
Peristiwa ini pecah pada Agustus 2017 dan berlanjut krusial hingga September 2017. Sementara saat ini, dengan dukungan berbagai negara termasuk Indonesia, diupayakan kebijakan repatriasi yaitu mengembalikan para pengungsi Myanmar ke Rakhine melalui kesepakatan Myanmar-Bangladesh.
Sikap Indonesia soal masalah ini sudah jelas, yaitu berupaya menghentikan sesegera mungkin tragedi kemanusiaan di negara tetangganya itu. Namun, Indonesia tidak bisa berjalan sendiri tanpa kerja sama tuan rumah Myanmar dan juga sesama negara anggota ASEAN.
Indonesia pun jelas sekali mengandalkan penyelesaian secara regional melalui ASEAN, ketimbang secara langsung menekan Myanmar untuk mengatasi krisis tersebut. Berulang kali Pemerintah RI mendesak negara ASEAN untuk bertindak konkret soal tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Apalagi Myanmar pun anggota ASEAN.
"Sudah waktunya bagi ASEAN untuk menunjukkan kepada masyarakat dan dunia bahwa ASEAN dapat melindungi rakyatnya dan mampu merespons tantangan di Asia Tenggara," kata Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Maka pendekatan diplomasi melalui meja perundingan di berbagai forum dan bantuan kemanusiaan secara langsung kepada pengungsi Rohingya merupakan jurus yang selama ini dilakukan Indonesia untuk mengatasi masalah itu.