Seperti Udara Jakarta, Dunia Pers Kita juga Terkontaminasi

Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan
Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan
Sumber :
  • VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis

VIVA –  Setiap orang memiliki keunikan, dan Ketua Dewan Pers yang baru, Muhammad Nuh, termasuk yang sangat unik. Ia tak pernah terlibat langsung dalam dunia jurnalistik, tapi kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pers untuk periode 2019-2022. M Nuh terpilih sebagai wakil dari masyarakat. 

Karier tingkat nasional pria kelahiran Surabaya, 17 Juni 1959 dimulai ketika ia menjabat sebagai Rektor Institute Teknologi Sepuluh November Surabaya periode 2003-2006. Melesat dengan menduduki posisi Menteri Komunikasi dan Informatika pada 2007-2009, lalu menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada 2009-2014.

Meski tak memilki latar belakang jurnalistik, tapi M Nuh memiliki perspektif tentang dunia jurnalistik, kompetensi wartawan, dan bagaimana arus informasi bergerak dengan sangat deras saat ini. Kepada VIVAnews yang menemuinya pada Kamis, 18 Juli 2019, di gedung Dewan Pers, ia menjabarkan visi misinya, termasuk seluruh rencana kerja yang sudah ia siapkan untuk mulai memperbaiki sistem kerja di  Dewan Pers, pembenahan kompetensi wartawan, termasuk meningkatkan kesejahteraan karyawan. 

Selengkapnya wawancara dengan M Nuh bisa Anda nikmati di bawah ini:

Anda tidak memiliki latar belakang di dunia media. Apa yang membuat Anda tertarik mencalonkan diri sebagai bagian dari Dewan Pers?
Saya kan pernah di Kominfo. Di Kominfo kan juga memiliki kaitan dengan media. Kalau menurut saya begini, apa sih produk utama dari media atau pers? Pers itu kan mesin, yang menghasilkan informasi. Dengan kata lain pers adalah mesin yang memproduksi sebuah informasi. Di zaman sekarang ini kalau tidak ada informasi, bubar ini. 

Kalau kita mengikuti perjalanan dari dunia keilmuan itu kan alurnya sederhana, data menghasilkan informasi, informasi mencari korelasi antar informasi yang lain, kemudian lahirlah knowledge atau ilmu pengetahuan. Itu mainframe-nya, paketnya kan seperti itu. Tapi ternyata ini ada kaitannya dengan society (masyarakat), society ada kaitan dengan revolusi industri. 

Pada saat revolusi industri ketiga lalu atau revolusi industri 3.0 yang lalu, di masyarakat itu orang menyebutnya information and knowledge society atau masyarakat yang berbasis informasi dan keilmuan . Itu revolusi industri 3.0 sampai 4.0. Sekarang kan eranya revolusi industri 4.0. Nah, kalau masyarakat itu menyebut bahwa revolusi industri 4.0 ini adalah masyarakat yang berbasis informasi dan ilmu pengetahuan tapi mesin produksi informasinya tidak jalan, kira-kira bagaimana jadinya? Nah, ini yang saya kira kita semua harus konsen di situ. Sehingga wartawan atau media ketika menulis sebuah informasi, itu bukan sekedar menulis informasi tok. 

Maksudnya, wartawan harus punya frame sendiri sebelum menulis?
Karena ini urusannya negara. Jadi bingkai besarnya itu urusan negara, dan wartawan itu bagian dari bingkai besarnya itu tadi. Karena masyarakat sekarang butuh informasi. Itu sama halnya dengan manusia hidup yang ketergantungan akan oksigen. Sekarang ini kalau tak ada informasi, klepek-klepek. 

Gak usah kita bicara orang dewasa, anak kecil saja sekarang ini kalau enggak pegang smartphone untuk mengakses informasi mereka kesulitan. Karena apa? Karena informasi sudah melekat kaya oksigen, melekat dengan manusia. 

Nah, sekarang pertaruhannya tinggal kualitas oksigennya. Kalau oksigennya terkontaminasi dengan polusi, dan lain sebagainya, ketika kita menghirup oksigen bukan tambah sehat, tapi tambah sakit. Sama dengan informasi, kalau kita menangkap atau menerima informasi yang tak karuan, tidak punya basis data yang bagus, orang yang membaca berita atau informasi itu tak akan tambah pintar, karena informasi yang dia dapatkan adalah informasi yang tidak sehat atau tidak berbasiskan data. Oleh karena itu, tugas kita, tugas Dewan Pers yang harus terus dikembangkan ke depan adalah quality of jurnalist.

Terkait kualitas jurnalis, bagaimana Anda melihat kondisi media saat ini?
Sama seperti oksigen Kota Jakarta, contaminated (terkontaminasi). Tapi kan kita tidak bisa membiarkan ini terus menerus terkontaminasi kan? Tugas kita adalah bagaimana polusi oksigen itu kita kurangi, kita kurangi, kita kurangi.