Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Sumber :

Di Bali juga sama demikian. Radius amannya itu empat kilometer dari puncak Gunung Agung. Di luar itu nggak apa-apa, silakan saja. Artinya kita tetap waspada, tetapi tidak boleh juga berlebihan. Karena kita sudah memberikan rekomendasi kepada pihak terkait terkait dengan batas-batas terdampak itu seberapa jauh, berdasarkan evaluasi data-data yang kita peroleh dari pemantauan gunung-gunung.

Apakah publik bisa ikut memantau? Bagaimana caranya?
Publik bisa mengunduh aplikasi Magma Indonesia. Di situ selalu di-update. Sebab, dari hasil evaluasi laporan yang masuk setiap enam jam sekali dan disampaikan kita tawarkan secara tertulis melalui WAG. Jadi sebenarnya semuanya juga bisa memantau kondisi-kondisi gunung-gunung tersebut.

Bagaimana mewaspadainya?
Sebenarnya ini biasa saja. Artinya gini, dari dulu juga sebenarnya gunung-gunung ini memiliki aktivitasnya masing-masing ya, kalau memang gunung itu merasa bahwa sudah waktunya untuk mengeluarkan hajatnya, ya sudah. Karena sebenarnya gunung api ini memang masih hidup. Dan dia pasti berhajat kan, hanya saja berhajatnya itu waktunya bermacam-macam, ada yang lama, ada yang sekarang terjadi seperti GTP itu kan. Artinya pada saat gunung-gunung ini berhajat, ya kita mau tidak mau menyingkir dulu, nanti setelah dia selesai berhajat ya kita kembali lagi enggak masalah. Lha wong dia lebih tua dari kita kok, kan tamunya kita kan, bukan dia yang lebih dulu kan gitu

"Setiap gunung memiliki aktivitasnya masing-masing. Jika sudah waktunya mengeluarkan hajatnya, ya dikeluarkan. Hanya saja waktu yang mereka butuhkan untuk melepas hajatnya bermacam-macam."

Tingkat keaktifan gunung berapi yang luar biasa ini membuat kita masuk dalam sebutan Ring of Fire?
Iya betul. Memang kita kan terletak atau berada di kawasan Ring of Fire, yaitu kita memang berada di tektonik aktif pertemuan tiga lempeng, sehingga implikasinya selain daerah yang sangat subur dengan sumber daya alam melimpah, seperti minyak, gas, dan sebagainya. Tetapi di sisi yang lain juga ada ancamannya. 

Kita memang memiliki jalur gunung api yang terpanjang, sekitar 7.000 km. Jumlah yang sangat banyak dibandingkan negara lain. Dan di sini juga ada jalur gempa karena adanya pertemuan sejumlah lempeng itu tadi. Itu menunjukkan bahwa kita juga daerah yang berpotensi gempa. Dalam satu hari pasti terjadi gempa, tapi ada yang bisa kita rasakan, ada juga yang tidak kita rasakan. Kalau dalam satu hari gempa yang kita rasakan itu berkisar satu sampai tiga kali, artinya dalam satu tahun bisa mencapai 400-an kali gempa yang kita rasakan. 

Sepertinya ini adalah sebuah fenomena alam yang biasa saja?
Jadi sebenarnya kejadian-kejadian alam ini memang terjadi mengikuti jalurnya saja. Jalur gempa ini kan memang ada, sehingga kejadian gempa-gempa itu adalah proses alam yang tidak bisa dihindarkan. Dan di antaranya memang ada gempa yang merusak. Tapi jumlah gempa yang merusak jumlahnya jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan gempa-gempa yang kecil. Dan sebenarnya potensi gempa juga sama dengan potensi terjadinya erupsi gunung berapi, kapan saja bisa terjadi. Cuma, kapan kejadiannya tidak bisa diketahui dengan pasti.

Beberapa bulan terakhir, intensitas gempa meningkat. Sebagian sangat terasa. Apa yang menyebabkan fenomena itu terjadi?
Seperti yang kami sampaikan tadi. Pertama,  karena Indonesia berada di kawasan Ring of Fire. Kedua, kemudian berada di kawasan tektonik aktif, maka salah satu implikasinya adalah terjadinya gempa. Dan gempa ini mengikuti jalurnya tadi. 

Dari Sumatera, Jawa, kemudian Nusa Tenggara, Maluku. Kejadiannya akan mengikuti daerah-daerah itu, dan tidak jauh dari itu. Dan kejadian itu sebenarnya hal yang wajar juga, karena selama ini kan memang sering terjadi gempa, sejak jaman mbah-mbah kita juga sering terjadi gempa. Kalau jaman mbah-mbah kita itu sering dibilang Lindu, dan lain lain.

Artinya kita memang akrab dengan kondisi seperti itu sebenarnya kan. Kalau masalah sumber gempanya itu para ahli ada yang mengatakan terkait dengan patahan-patahan lempengan aktif yang menimbulkan gempa. Kita tahu itu di daerah Sumatera itu ada patahan lempengan dari utara sampai selatan yang nanti ketemu di Selat Sunda, terus ketemu lagi di situ ada patahan Ujung Kulon, itu yang terkait dengan sesar aktif yang sering disebut sumber gempa. 

Apa yang menyebabkan gempa-gempa itu terjadi secara beruntun?
Gempa itu kan pelepasan energi. Kalau gempa beruntun itu sebenarnya secara statistik gempa itu kalau makin banyak atau makin sering, energinya biasanya akan semakin sedikit. Dan kalau beruntun sebenarnya tidak juga, karena gempa itu terjadi mengikuti jalurnya lempengan dia. 

Memang ada jenis-jenis gempa yang dipicu oleh macam-macam ya, ada yang terkait dengan sesar-sesar. Secara patahan sesar aja ada tiga jenis patahan itu umumnya, ada naik, ada turun, ada sesar mendatar. Sesar-sesar mendatar atau sesar naik ini biasanya kalau begitu terjadi gempa akan diikuti oleh gempa-gempa susulan, agak panjang biasanya, seperti yang terjadi di Lombok beberapa waktu lalu itu. Kemudian gempa di Aceh juga agak panjang, karena dia terkait sesar mendatar juga itu, kemudian di Palu kemarin juga sama. Karena sesar itu kan banyak, sehingga ketika gempa terjadi biasanya akan diikuti gempa-gempa susulan sebagai pergerakan dari patahan-patahan itu sendiri.