Teater Soekarno

Kolase Foto -Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background teater Soekarno di Ende.
Sumber :
  • tim tvonenews

Ketika Soekarno berada di titik nadir jalan hidup, dalam pembuangan di Ende, Flores Nusa Tenggara Timur, dunia politik tak menemaninya. Tak ada Gatot Mangkupraja, Maskun Sumadiredja, atau Supriadinata, teman-teman sesama pesakitan di pengadilan kolonial di Jalan Landraad, Bandung.

img_title Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Ini Rekam Jejak Putra Bungsu Presiden Soekarno

Tak Terlihat Anwari, Ishaq, Suyudi atau Sartono, rekan rekan saat ia pada 1927 mendirikan Partai Nasional Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berangkat dari Surabaya, Jawa Timur dengan kapal K.P.M van Riebek menuju Ende pada Februari 1934, Soekarno memang “cukup beruntung” tak dibuang ke kamp konsentrasi seperti Digul di Papua. 

img_title Menembus Akses Sulit di Flores

Ia tak seperti sekondannya dalam revolusi, Sjahrir, Hatta atau 2.600 tahanan politik lain yang dikirim Belanda ke gulag setelah pemberontakan PKI 1926. Di Tanah Merah banyak tapol dibiarkan meninggal dunia karena siksaan fisik, kerasnya alam dan buasnya binatang di sekitar kamp.

img_title Bangun Mushala & Renovasi 11 Ruang Kelas di Nagekeo, Prudential Syariah Gandeng LAZ Al Azhar

(Dok - Soekarno saat menjalani masa pengasingan di Ende. Sumber: Kemdikbud)

Sementara Soekarno “dibunuh” dengan rasa sepi, diasingkan ke pulau kecil, dengan penduduk 5000 jiwa yang hanya butuh beberapa jam saja untuk mengelilinginya dengan menggunakan mobil jeep.

Tinggal hanya bersama Inggit Garnasih, Soekarno benar terisolasi dari dunia luar. Pergi ke manapun, ia selalu dibuntuti oleh dua orang polisi kolonial. 

"Aku kembali terpenjara, dengan sel yang lebih besar," ujar Soekarno dalam buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adam. 

Sama sekali tak ada alat komunikasi, tak ada telepon atau kantor telegraf. Satunya kontak dengan dunia luar hanya lewat dua kapal pos yang datang sebulan sekali. Artinya hanya dua kali dalam sebulan, Bung Karno menerima informasi dari Jawa lewat surat surat dan surat kabar.

Menurut peneliti sosial asal Nusa Tenggara Timur, Daniel Dhakidae, Flores adalah pulau dengan sejarah tertaklukan. Hampir tak ada perlawanan apapun dari warga pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini untuk melawan kolonialisme. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dok. Bung Karno saat menjalani masa pengasingan di Ende.
(Dok. Bung Karno saat menjalani masa pengasingan di Ende. Sumber: Kemdikbud)

Tak pernah tercatat sejarah adanya organisasi lintas suku, agama, bangsa yang menyatukan warga Flores untuk mempertanyakan kolonialisme. Belanda sangat berhasil membuat pulau ini apolitis. Warganya diikat dengan perjanjian oleh Belanda, dikondisikan hanya akan peduli dengan perdagangan kopra.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut