Flaneur

Kolase Pojok KC - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background kawasan Braga bandung.
Sumber :
  • tim tvonenews

Masa lalu seperti tak pernah silam di Jalan Braga. Pagi itu, saat  mengikuti race Pocari Sweat 2023  di Bandung pekan lalu, sepanjang rute lari yang cukup steril dan sejuk saya menyesap nikmatnya menjadi warga kota.  Saya seperti melihat  berbagai zaman hidup bersamaan, serentak. Yang arkaik, modern, kontemporer dirayakan bersama sama pada sepotong jalan. 

img_title Viral Isu Skenario Singapura 'Lepas Laga' Demi Meloloskan Malaysia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026

Deretan ruko ruko cantik bergaya klasik indies berbaur dengan ruko baru yang terawat, dengan bangku bangku ditata menghadap jalan raya; trotoar-trotoar lebar, rata dan bersih penuh orang lalu lalang berjalan kaki; bangku bangku taman yang penuh dengan warga kota yang bercengkrama (dari pakaian yang dikenakan terlihat berasal dari berbagai lapisan); pedagang lukisan mooi indie yang menjadikan pedestrian sebagai galeri publik berebut menarik perhatian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melintas di depan Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka) yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan bangsa bangsa kulit berwarna melawan kolonialisme atau di sisi Lapangan Gasibu saya seperti tengah dejavu dengan kota kota tua lain di Eropa. Pada selasar lebar Champs Elysees di Paris, Las Ramblas yang sangat populer di Barcelona atau  Taman Wenceslas di Praha yang jalanannya bukan hanya untuk orang melintas sesaat, tetapi juga untuk bergaul, kongkow, melihat pertunjukan, saling bertemu, berinteraksi hingga berolahraga.

img_title Mau Liburan Anti Mainstream ke Singapura? Coba Sensasi Halloween Penuh Teror Ini

(Kawasan Braga, Bandung, Jawa Barat)

img_title Ole Romeny Ungkap Syarat Timnas Indonesia Bisa Cetak Lebih Banyak Gol saat Lawan Malaysia

Aroma juga ikut mendefinisikan setiap sudut jalan itu.  Barangkali itu yang membuat saya selalu ingin mengulanginya lagi. Konon aroma paling memancing memori purba manusia.  Bau melengkapi ingatan oleh pancaindra.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Adalah Victoria Henshaw secara khusus meriset ihwal peta bau di sejumlah kota lewat buku Urban Smellscapes, Understanding and Designing City of Smell Environments (2013). Dalam penelitian Victoria—salah satunya menggunakan olfactometer, alat khusus pendeteksi bau, untuk melihat bagaimana kota kota di dunia mendefinisikan dirinya, salah satunya lewat aroma kotanya.  Bagaimana bau khas dari aktivitas warga lokal menyempurnakan  memori, ingatan, wawasan tentang kehidupan kota itu.

Singapura, misalnya ternyata baunya secara umum didominasi oleh aroma alami karena banyaknya ruang terbuka hijau dan hutan kota. Namun, di sejumlah distrik di negara jiran itu,  aroma kuliner menguasai. Aroma kari India, masakan minang hingga makanan China mendominasi bau bauan di ruang publik. Yang dilestarikan di Jepang tidak hanya situs wisatanya, tetapi juga Stasiun Tsuruhashi di Osaka yang terkenal dengan aroma daging panggangnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut