Dunia Pasca-Amerika

Pojok KC - Kolase Foto Pemred tvonenews Ecep S Yasa, background unjuk rasa di Universitas Columbia AS.
Sumber :
  • tim tvonenews

Chomsky mengenalkan kata “konsistensi rasional” pada ketidakkonsistenan antara kata-kata dan tindakan Amerika Serikat saat mendukung demokrasi di luar negeri. "Jika dan hanya jika itu konsisten dengan kepentingan strategis dan ekonomi AS,” ujar Chomsky.

img_title Di Hadapan Imam Besar Al-Aqsa, Megawati: Saya Terus Mendukung Perjuangan Palestina Sampai Merdeka

Kita tahu bagaimana veto Amerika Serikat (AS) selalu mengakhiri upaya Palestina untuk menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Mojtaba Khamenei Dua Kali Lolos dari Serangan Bom AS-Israel, Begini Kondisinya Kini

Saya kira sikap yang dibutuhkan saat ini adalah kerendah hatian Abang Sam, bahwa mereka bukan lah lagi polisi dunia. Mereka harus mulai mengacuhkan dunia lain di luar batas batas negerinya yang memang mengalami perkembangan pesat.

Amerika Serikat harus mulai sadar, dalam tingkat tertentu mereka terisolasi dari perkembangan dunia. Saya sebut satu pesaing saja: Tiongkok. Pada 1990 Tiongkok menyumbang 2 persen total pendapatan domestic bruto global. Kini angka itu sudah berlipat empat, menjadi 8 persen dan tentu masih akan terus meningkat. 

img_title Iran Janjikan Serangan Lebih Dahsyat Jika AS-Israel Kembali Gempur Teheran

Tak hanya lebih digdaya secara ekonomi, daya jangkau militernya juga semakin jangkung. Sejak 2008, Angkatan Laut Tiongkok telah mengawal lebih dari 4,300 kapal di Teluk Aden. Belanja Pertahanan Beijing akan melampui Amerika pada 2025.

Secara geopolitik Amerika Serikat juga semakin tertinggal dengan Tiongkok. Lihat lah markas Uni Afrika yang mentereng di Addis Ababa, Etiopia, dibangun oleh Tiongkok dengan nilai lebih dari $200 juta. Bahkan, saat peresmian, seorang petinggi Politbiro Partai Komunis Tiongkok ikut datang. 

Belum jika kita bicara kiprah Perdana Menteri Turki Recep Tayip Erdogan yang perannya semakin menentukan. Erdogan yang terpilih kembali karena kesuksesan menciptakan lapangan kerja baru di dalam negeri, juga semakin giat menyerukan solidaritas dunia Islam untuk kemerdekaan Palestina.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Agaknya sudah terang, Amerika Serikat bukan lagi kutub, bukan pusat gravitasi tata dunia baru ini. Jika lebih jauh kita memangdang sekeliling, bangunan tertinggi di dunia kini tertelak di Dubai bukan di Times Square Garden, orang terkaya sedunia  berasal dari Meksiko bukan di Silikon Valley, pesawat terbesar di dunia dirakit di Rusia bukan di Chicago, perusahaan dagang terbesar di dunia ada di Tiongkok. 

Penguasa ikon ikon kebudayaan pop pun sudah bergesar. Komidi putar raksasa ada di Singapura, kasino terbaik bukan lagi di Las Vegas tapi di Makau, industri film terbesar (secara jumlah produksi dan jumlah tiket yang terjual) bukan lagi di Hollywood, tapi di New Delhi (Bollywood).

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut