Centeng Demokrasi

Pemred tvonenews.com, Ecep Suwardaniyasa, insert ilustrasi pelaku premanisme saat ditampilkan oleh Polresta Tangerang
Sumber :
  • tim tvonenews.com

Tentu selalu ada hubungan benci dan rindu. Sudah bukan rahasia jika kelompok-kelompok ini di tingkat bawah jadi “binaan” aparat keamanan di tingkat lokal. Pimpinan kelompok preman di tingkat lokal dan aparat resmi negara saling kunjung untuk berbagi “peran” dan “operasi” di lingkungannya masing-masing. Namun, ketika sudah “saling makan” jatah logistik di lapangan, hubungan bisa berubah saling antagonistik.

img_title Habib Bahar Ungkap Sempat Komunikasi dengan Hercules Bahas Soal Insiden di Pejompongan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Eks preman Tanah Abang, Hercules

Photo :
  • YouTube/Gus miftah official

img_title Hercules Disebut Ada di Lokasi Kerusuhan 27 Agustus, Ini Respons Puan Maharani

Sayangnya, publik seringkali tak melihat fakta-fakta “di belakang layar” semacam itu. Kita (salah satunya pers) misalnya hanya menyaksikan peristiwa-peristiwa besarnya saja. Wartawan sibuk menulis penangkapan salah satu pentolan ormas GRIB Jaya Depok oleh petugas yang menimbulkan kekisruhan, anggota ormas lainnya mengamuk membakar sejumlah mobil milik aparat kepolisian. Jurnalisme investigasi tidak dihadirkan untuk mengungkap hubungan yang sebenarnya, relasi yang bisa membuat kita merasa miris, bagaimana sebuah ormas preman dalam struktur negara pada mulanya dibiarkan dan diberi kekuasaan lebih besar dari seharusnya.  

Yang jelas, keberadaan ormas seperti GRIB Jaya menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan demokrasi Indonesia. Fenomena GRIB Jaya menunjukkan bahwa demokratisasi di Indonesia belum sepenuhnya institusional. Proses politiknya masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan informal dan hubungan patron-klien. Demokrasi prosedural sepertinya berjalan baik, tetapi substansinya sebenarnya masih sering diwarnai oleh praktik kekuasaan yang berbasis kekuatan jalanan, pamer otot dan loyalitas pribadi.

img_title Ditantangin Habib Bahar, Hercules: Kami Berdua Sudah Seperti Saudara!

Lebih jauh, tumbangnya Orde Baru, menyadarkan kita Indonesia mengalami kekosongan ideologis. Orde Baru, dengan segala otoritarianismenya, suka atau tidak harus diakui berhasil menciptakan satu bentuk ideologi negara yang relatif stabil. Negara hadir memberikan rasa aman, penegakan hukum yang melanggar HAM, misalnya operasi memberantas premannya dengan menggelar petrus (penembakan misterius).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, ketika rezim Soeharto jatuh, negara seperti kerupuk tersiram air, meleyot menghadapi kelompok kelompok preman. Negara tidak mampu lagi menjadi sumber tunggal moralitas dan nilai-nilai kolektif. Di tengah kekosongan inilah, ormas-ormas baru bermunculan untuk mengklaim posisi ideologis tersebut.

Nah, saat negara “vakum ideologi” lalu ada aktor-aktor lain mengambil alih peran itu—entah ormas keagamaan atau GRIB Jaya dengan ketokohan Hercules—siapa yang kira-kita patut dipersalahkan?

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo (tengah)

Kapolri Ultimatum Preman dan Pelaku Pungli di Kawasan Industri

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan sinyal tegas kepada pelaku premanisme dan pungutan liar (pungli) yang masih beraksi di kawasan industri.

img_title
VIVA.co.id
11 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut