Pabrikan Minta Pengguna EV Dapat “Privilege” di Jalan

Hyundai Ioniq 5 N
Sumber :
  • Arianti Widya

Jakarta, VIVA - Upaya percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebijakan insentif yang belum menyentuh seluruh aspek kepemilikan. Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Frans Soerjopranoto, menilai insentif yang ada saat ini masih terlalu berfokus pada tahap awal pembelian.

img_title Sebelum Beli iPhone 18 Pro dan Pro Max, Ini Pajak dan Biaya Tambahan yang Perlu Diperhitungkan

Menurut dia, pendekatan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong peralihan masyarakat ke kendaraan listrik secara masif. Sebab, keputusan konsumen dalam membeli kendaraan tidak hanya ditentukan oleh harga awal, tetapi juga biaya penggunaan dalam jangka panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Frans mengatakan, insentif seharusnya dirancang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna selama masa kepemilikan. Ia mencontohkan, kendaraan listrik yang memiliki emisi lebih rendah semestinya mendapatkan keuntungan tambahan dalam penggunaan sehari-hari.

img_title Pajak Kendaraan Nunggak Lama, Masih Ada Kesempatan Pemutihan

“Kalau kendaraan itu memang lebih ramah lingkungan, seharusnya ada benefit yang dirasakan saat digunakan. Misalnya saat menggunakan tol atau parkir, bisa mendapatkan kelebihan,” kata Frans di Jakarta belum lama ini. 

Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya perubahan pendekatan dalam kebijakan kendaraan listrik. Selama ini, insentif yang diberikan pemerintah cenderung berupa potongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang hanya berdampak pada harga beli.

img_title Terpopuler: Toyota Siapkan 400 Ribu Robot, Penjualan Pikap Tembus 89 Ribu Unit, hingga Pajak EV China

Padahal, dalam konteks yang lebih luas, faktor biaya operasional dan kemudahan penggunaan justru menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Insentif berbasis penggunaan dinilai dapat memberikan nilai tambah yang lebih nyata, sekaligus memperkuat daya saing kendaraan listrik dibandingkan mobil bermesin konvensional.

Selain itu, Frans juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap ekosistem, termasuk peran jaringan dealer. Ia menyebut, edukasi kepada konsumen menjadi salah satu kunci dalam mempercepat adopsi teknologi baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, dealer tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan, tetapi juga menjadi ujung tombak dalam memberikan pemahaman mengenai karakteristik dan keunggulan kendaraan listrik. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan yang turut mempertimbangkan peran tersebut.

“Dealer melakukan edukasi kepada konsumen, menjelaskan teknologi dan manfaat kendaraan listrik. Itu membutuhkan upaya tambahan, sehingga perlu ada dukungan juga,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut