Pabrikan Minta Pengguna EV Dapat “Privilege” di Jalan
- Arianti Widya
Di sisi lain, Hyundai melihat bahwa preferensi konsumen di Indonesia masih beragam. Tidak semua pengguna siap beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai. Sebagian masih mempertahankan kendaraan bermesin pembakaran internal, sementara sebagian lain mulai melirik teknologi hybrid sebagai alternatif.
Kondisi tersebut membuat Hyundai memilih strategi menghadirkan lini produk dengan berbagai pilihan sumber tenaga, mulai dari mesin konvensional, hybrid, hingga kendaraan listrik murni. Pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap dinamika pasar yang masih dalam tahap transisi.
Dalam situasi tersebut, keberadaan insentif yang tepat sasaran menjadi faktor penting. Frans menilai, jika kebijakan hanya berfokus pada pembelian, maka daya dorongnya akan terbatas. Sebaliknya, jika insentif juga menyasar penggunaan, maka manfaat kendaraan listrik akan terasa lebih luas.
Dengan demikian, peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia akan semakin terbuka. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada arah kebijakan yang diambil pemerintah dalam waktu ke depan, khususnya dalam merancang skema insentif yang tidak hanya menarik di awal, tetapi juga berkelanjutan.