Gaji Bos Mobil Dunia Bikin Geleng Kepala, Ada yang Nol Rupiah

Elon Musk di Pembukaan World Water Forum ke-10.
Sumber :
  • Pusat Media Forum Air Dunia 2024/Aprillio Akbar/nym/mif.

Jakarta, VIVA – Besaran gaji para petinggi industri otomotif global kerap menjadi sorotan karena nilainya yang fantastis. Angka tersebut bukan sekadar gaji pokok, melainkan kombinasi bonus, insentif kinerja, hingga kompensasi berbasis saham.

img_title Mobil Murah Mulai Ditinggalkan? Ini Nasib Penjualan LCGC di Indonesia

Salah satu nama yang paling menonjol adalah Carlos Tavares sebagai bos Stellantis. Ia sempat menerima total kompensasi sekitar €36,5 juta atau setara kurang lebih Rp620 miliar dalam satu tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Besarnya angka tersebut berasal dari sistem berbasis performa yang diterapkan perusahaan. Artinya, semakin tinggi pencapaian bisnis, semakin besar pula bonus yang diterima oleh pimpinan perusahaan.

img_title Cerita Purbaya Dicap Pelit Istri Gegara Gak Ganti Mobil Puluhan Tahun

Di Amerika Serikat, pola serupa juga terlihat pada Mary Barra yang memimpin General Motors. Total kompensasinya berada di kisaran USD 25–30 juta per tahun atau sekitar Rp400–480 miliar.

Hal yang sama juga berlaku untuk Jim Farley di Ford Motor Company. Ia menerima bayaran sekitar USD 20–25 juta per tahun, setara Rp320–400 miliar dengan dominasi insentif jangka panjang.

img_title Harga Beda Tipis, Lebih Menarik Toyota Camry atau BYD Seal?

Jika dibandingkan, struktur gaji di Amerika cenderung lebih agresif karena mengandalkan kompensasi berbasis saham. Hal ini membuat total pendapatan CEO bisa meningkat signifikan ketika performa perusahaan mengalami pertumbuhan.

Berbeda dengan Amerika, Eropa cenderung memiliki struktur gaji yang lebih konservatif. Oliver Blume sebagai pimpinan Volkswagen Group menerima kompensasi sekitar €9–10 juta per tahun atau sekitar Rp150–170 miliar.

Meski lebih rendah, sistem di Eropa tetap memberikan insentif berbasis kinerja, hanya saja dengan batasan yang lebih ketat. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kinerja perusahaan dan tata kelola.

Sementara itu, ada juga kasus unik seperti Elon Musk dari Tesla. Ia tidak mengambil gaji pokok, namun mendapatkan kompensasi dalam bentuk saham yang nilainya bisa mencapai puluhan miliar dolar atau setara ratusan triliun rupiah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Senin 27 April 2026, struktur kompensasi ini memang menjadi praktik umum di industri otomotif global. Skema tersebut dirancang agar kepentingan CEO selaras dengan performa perusahaan dalam jangka panjang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa besaran gaji tidak selalu mencerminkan pendapatan tetap yang diterima setiap bulan. Sebaliknya, sebagian besar justru berasal dari insentif yang sangat bergantung pada kinerja bisnis.

Penampakan Xpeng X9 Rusak Parah

Xpeng X9 Hantam Pohon dan Tiang Sampai Rusak Parah, Airbag Tak Mengembang

Xpeng X9 mengalami kecelakaan parah hingga terguling dan rusak total. Airbag tak mengembang, sementara pabrikan menyebut benturan tak memenuhi ambang sensor.

img_title
VIVA.co.id
27 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut