Tiga Penyebab Pelek Motor Mudah Penyok

Pelek motor model jari-jari.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA.co.id – Pelek memiliki fungsi sebagai tempat menempelnya ban pada sepeda motor. Tanpa adanya pelek, maka ban tidak akan bisa sempurna berputar menyalurkan tenaga mesin.

Kondisi pelek yang tidak bundar otomatis memengaruhi kenyamanan berkendara. Semakin parah perubahan bentuk pelek, maka motor semakin sulit untuk dikendalikan.

"Pelek penyok sangat berbahaya, buat pengendara jadi enggak nyaman. Semakin kencang roda berputar, getarannya semakin sulit dikendalikan. Bahaya kalau pelek depan yang bengkok," kata mekanik salah satu bengkel Astra Honda Authorized Service Station (AHASS), Stanley, kepada VIVA.co.id, Selasa 20 September 2016.

Menurut dia, ada beberapa penyebab yang bisa membuat pelek penyok. Pertama, motor menabrak atau membentur benda keras. Meski tingkat kerusakan relatif kecil, namun tetap memengaruhi kestabilan putaran roda.

"Pelek penyok bisa juga karena sering menabrak lubang. Roda jadi tidak lurus," ungkapnya.

Kedua yakni, ban motor kekurangan angin. Hal itu biasanya disepelekan oleh pengendara motor. Padahal jika dibiarkan, bisa berakibat fatal bagi pengendara.

"Kalau ban motor kurang angin, saat tiba-tiba berbenturan dengan jalan berlubang, pelek bisa penyok atau patah," jelasnya.

Ketiga, yaitu dipaksa mengangkut beban dengan berat yang berlebihan. Pelek akan cepat rusak, karena titik tumpu pelek didesain untuk bobot tertentu saja.

Pelek Motor Paling Bagus Menurut Tukang Servis

"Memang enggak kelihatan, tapi bisa bikin enggak nyaman dan oleng," ujarnya.

Ia menyarankan, bila pelek motor sudah terasa rusak atau tidak lurus lagi, sebaiknya segera diperbaiki di bengkel press.

Bengkel Moge Ini Terima Pembuatan Pelek Custom

"Kalau tidak retak, masih bisa di-press, tidak masalah.  Biasanya kalau pelek palang kena biaya Rp50 ribu, pelek jari-jari sekitar Rp30 ribu," kata dia.

Pelek sepeda motor

Permintaan Pelek Motor 13 Inci Meningkat

Penambahan tersebut diharapkan bisa memutus ketergantungan industri otomotif Indonesia pada produk impor.

img_title
VIVA.co.id
17 Desember 2020