Menyingkap Mitos Angker Tanjakan Emen
- Antara/Sigid Kurniawan
Ada yang menyebut si Emen sebenarnya bukan sopir, melainkan kenek truk. Konon, dalam satu kecelakaan pada tahun 1960, Emen terseret bus saat sedang memperbaiki kendaraannya yang mogok. Dongeng lain menyebutkan bahwa Emen adalah sopir opelet dengan trayek Subang-Bandung. Dia dan penumpang opeletnya tewas setelah kendaraan yang dikemudikannya menabrak tebing lalu terbakar.
Semua versi cerita itu akhirnya melahirkan mitos baru agar setiap pengendara dapat selamat ketika melintasi tanjakan Emen. Banyak sopir membuang puntung rokok yang menyala saat melintas di tanjakan Emen demi menghindari sial. Konon, para sopir selalu merokok saat menyetir kendaraannya. Ritual itu dikaitkan dengan cerita bahwa Emen perokok berat.
Jalur berbahaya
Tak ada bukti yang membenarkan semua versi kisah si Emen itu. Tetapi sejumlah fakta dapat ditelusuri dari sekian banyak kejadian kecelakaan: kebanyakan selalu berkisar dugaan rem blong atau rem tiba-tiba tak berfungsi, mobil tergelincir hingga terguling atau terjun ke jurang.
Diakui atau tidak, jalur sepanjang tiga kilometer itu memang berbahaya; setiap pengemudi harus sangat waspada dan berhati-hati. Pertama-tama karena kontur jalan memanglah curam dengan kemiringan 45-50 derajat. Jalurnya cukup panjang menanjak dari arah Subang menuju Lembang, Kabupaten Bandung Barat; sebaliknya menurun panjang pula jika dari arah Lembang menuju Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang.
Konsekuensi dari kontur jalan yang seperti itu ialah pengemudi kerap merasa leluasa meluncur dari arah kawasan Tangkuban Perahu dan sebaliknya pengendara sangat berat jika menanjak dari arah kawasan Ciater.
Kedua ialah kontur jalan naik dan turun, kemudian berbelok tajam, dan sering diselimuti kabut sehingga jarak pandang terbatas. Dalam kondisi siang saja jarak pandang amat terbatas kalau kawasan itu sudah berkabut, apalagi saat malam. Ditambah juga minim penerangan jika malam. Para pengemudi biasanya membunyikan klakson untuk memberi tanda kepada pengendara lain yang datang dari arah berlawanan.
Polisi sebenarnya sudah memasang sejumlah rambu peringatan agar para pengendara harus ekstra berhati-hati jika melintasi jalur itu, terutama di titik yang dianggap paling rawan, yaitu dua kilometer jalan curam menurun. Bahkan telah dibangun sebuah monumen kecelakaan lalu di tepi jalan, sekira dua kilometer sebelum lokasi rawan.