Menyingkap Mitos Angker Tanjakan Emen
- Antara/Sigid Kurniawan
“(Kalau ada) kendaraan yang melintas daerah Emen ini, (saat) melihat (monumen kecelakaan dapat memperingatkan diri) ‘Oh, ada (lokasi rawan) kecelakaan’; ada mobil yang rusak karena kecelakaan, jadi lebih safety gitu, harapannya begitu,” kata Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar Polisi Prahoro, ketika dihubungi VIVA pada Minggu, 11 Februari 2018.
Prahoro mengakui, dalam sekian banyak kasus kecelakaan di tanjakan Emen, rata-rata terjadi pada jalur menurun atau dari arah Lembang menuju Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Begitu pula bus nahas berpenumpang 50 orang asal Tangerang, Banten, yang terguling pada Sabtu sore itu.
Bus baru saja meninggalkan Gunung Tangkuban Perahu untuk kembali pulang ke Tangerang Selatan melalui Tol Cikopo-Palimanan yang diakses dari Gerbang Tol Subang Kota. Setelah keluar dari gerbang Tangkuban Perahu, bus melewati turunan panjang sekira dua kilometer. Saat melewati turunan panjang yang curam dan berkelok-kelok di tengah kebun teh dan hutan pinus itulah bus menabrak sepeda motor, menabrak tebing di kiri jalan, lalu terguling.
Polisi masih menyelediki penyebab pasti kecelakaan maut itu. Namun Prahoro mengisyaratkan ada sesuatu yang tak beres atau sekurang-kurangnya ada bagian jalan yang memang berpotensi mencelakakan pengendara, yaitu kontur yang tak seimbang untuk dilintasi kendaraan berbadan besar. "Memang,” katanya, “kalau dari kontur, kurang seimbang; seandainya mobil belok kanan, tapi (badan mobil justru) miringnya kiri.”
Rambu-rambu lalu lintas sebenarnya tak kurang, yang pada pokoknya memperingatkan setiap pengendara agar berhati-hati, terutama keharusan mengurangi laju kendaraan saat di jalur menurun. Risiko lebih besar jika pengemudi tak mengurangi laju kendaraan ialah terjun ke jurang, alih-alih menabrak tebing.
Prahoro membandingkan tingkat keberbahayaan tanjakan Emen dengan jalur naik-turun dan berkelok-kelok di kawasan Puncak, Bogor. Memang, katanya, jalur Puncak juga rawan, tetapi lebih berbahaya dan mematikan jalur Emen. Sebabnya ialah jalur menurun yang sedikit atau banyak memberikan kesempatan bagi pengendara seolah meluncur dari ketinggian.
“Kalau (jalur) Emen, kan, turunan; menurunnya itu yang rawan banget. Kalau Puncak, jalurnya pendek-pendek. Coba kalau (di jalur Emen) dari Tangkuban Perahu sampai ke TKP (lokasi kecelakaan), kan turunan," kata Prahoro.