Xanders Kitchen, di Balik Kisah Sukses Mega Best Seller
- Dok, Junita Xanders Kitchen
Pernah tinggal di pulau terpencil NTT, ceritakan bagaimana memanfaatkan kearifan lokal?
Itu sebagai awal perjalanannya saya membuat buku. November 2015, pertama kali saya menginjakkan kaki di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur mengikuti dinas suami.  Lalu 5 bulan kemudian kembali pindah ke pulau Lembata,  pulau kecil yang jaraknya 45 menit naik pesawat dari Kupang.
Di Lembata, Â belakang rumah saya adalah laut. Sebetulnya sulit bagi saya waktu itu, kaget dari kota besar harus pindah ke daerah terpencil. Tetapi, saya mencoba berpikir positif.
![]()
Saya bisa menikmati langit biru, udara bersih , pemandangan alami yang cantik yang enggak semua orang dapat kesempatan seperti itu. Saya juga mengajarkan anak-anak tentang kehidupan di daerah tertinggal supaya anak-anak belajar bersyukur, berbagi karena banyak juga teman di sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Di sana saya mengeksplor kearifan lokal dan beruntung bisa mencicipi langsung ikan-ikan segar dan hasil laut yang melimpah.
Kalau belanja ikan, saya senang sekali. Tampilan ikannya bersih, segar dan seperti masih hidup. Nelayan turun dari kapal langsung bisa dibeli. Rasanya manis, enggak perlu diberi bumbu macam-macam.
![]()
Di sana ikan-ikan misalnya jenis kakap , kuwe , kerapu bisa didapat dengan harga murah. Hanya 20 - 30 ribu per ekor untuk ukuran yang besar sekali. Sedangkan ikan-ikan jenis kecil seperti ikan tembang jika nelayan dapat banyak tangkapan sering kali dikasih gratis. Tinggal datang saja bawa ember.
Selanjutnya, apakah sulit mendapatkan bumbu>>>
Tinggal di pulau kecil, apakah sulit mendapatkan bumbu masakan dan sayur mayur?
Iya, karena iklim yang cenderung kering sayuran juga terbatas. Penduduk Lembata, mengandalkan pasokan sayur yang dibawa kapal laut dari Makassar. Terkadang kualitasnya sudah kurang baik karena waktu pengiriman yang lama.
Masyarakat setempat hanya menanam jagung, paria, terung, singkong, labu dan caisim. Sayur seperti brokoli itu enggak ada. Bumbu-bumbu juga terbatas, paling saya beli di Kupang kalau pas suami dinas ke sana. Itu sebabnya saya lebih banyak berkreasi sendiri dengan bumbu yang ada.