Problem Perempuan Bekerja, Tak Cuma soal Cuti Haid
- Pixabay
“Dari Kemenkes lebih pada membuat standar dan pedoman teknis pelaksanaan dan pembinaan teknis,” ujarnya.
Sementara itu, Menkes RI, Prof. dr. Nila Djuwita Moeloek, Sp.M (K) pada acara High Level Meeting Gerakan Pekerja Perempuan Sehat Produktif (GP2SP) di Kantor Kemenkes, pernah menyebut bahwa Program GP2SP diarahkan pada pemenuhan kecukupan gizi pekerja perempuan, pemeriksaan kesehatan pekerja perempuan, pelayanan kesehatan reproduksi pekerja perempuan, peningkatan pemberian ASI selama waktu kerja di tempat kerja dan penanggulangan penyakit menular (PM) dan tidak menular (PTM).
![]()
Pada kesempatan itu Menkes menyampaikan harapan kepada para pengusaha agar dapat melaksanakan upaya-upaya yang khususnya memperhatikan pekerja wanita.
Harapan Menkes kepada para pengusaha di antaranya adalah
1. Menyediakan jaminan kesehatan bagi seluruh pekerja dengan manfaat yang menyeluruh, termasuk pelayanan kesehatan reproduksi baik yang diselenggarakan di fasilitas pelayanan kesehatan perusahaan maupun bermitra dengan pihak ketiga.
2. Melakukan penanggulangan anemia gizi besi pada pekerja perempuan dengan pemberian tablet tambah darah, obat cacing dan obat lainnya sesuai penyebabnya.
3. Memberikan pelayanan kesehatan reproduksi bagi pekerja perempuan mulai dari sebelum hamil, hamil dan setelah melahirkan.
4. Memberikan kelonggaran waktu untuk mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan - termasuk kesehatan reproduksi yang menjadi mitra perusahaan sesuai dengan kebutuhan pekerja dan memenuhi hak-hak pekerja perempuan antara cuti bersalin.
5. Menyediakan tempat untuk menyusui bayinya atau memerah ASI berupa ruang ASI di tempat kerja, sehingga hak bayi untuk mendapat ASI Eksklusif sampai usia 6 bulan dapat diwujudkan.
![]()
6. Melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit menular (PM) dan penyakit tidak menular (PTM) seperti penyelenggaraan suntik vaksin serviks dan penyuluhan soal kesehatan perempuan.
"Pekerja perempuan memerlukan pengawalan dan perlindungan khusus di bidang kesehatan. Tanpa kesehatan yang baik, pekerja kita tidak akan mampu bersaing dengan tenaga kerja lainnya di era globalisasi saat ini."
Ia melanjutkan, bila pekerja perempuan sehat diharapkan bahwa keluarganya dan masyarakat akan menjadi sehat.
"Begitu pula sebaliknya. Bila pekerja perempuan sakit, maka tentu akan berdampak buruk pada unit tempat ia bekerja dan juga keluarganya. Hal ini tentu bukan menjadi harapan kita semua," imbuhnya.