Teror Hoax di Media Sosial
- REUTERS/Dado Ruvic
"Pakai akal sehat. Saya kalau mau melihat informasi, ya, dari media massa mainstream. Itu jauh lebih terpercaya. Isu besar juga akan diangkat apabila ada fakta pendukung. Enggak berani mengutip sesuatu tanpa fakta," tegasnya.
Pada kesempatan terpisah, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia atau Mafindo menyoroti penyebaran berita palsu atau hoax di kalangan aplikasi chatting datang dari orangtua.
![]()
Ketua Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, menyebut akan sulit memberitahu para orangtua untuk menghentikan penyebaran berita tidak jelas ke anak-anak mereka.
"Misalnya, kita sebagai anak ngasih tau orangtua, ya, enggak bisa. Yang namanya anak ngasih tau orangtua itu sulit sekali. 'Kamu siapa, kamu saya yang didik,’" kata Septiaji, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, untuk memberitahu orangtua tentang berita hoax butuh pendekatan yang out of the box. Ia mencontohkan, pemberitahuannya bisa lewat orang-orang dewasa yang dipercaya atau tokoh masyarakat dengan kredibilitas tinggi.
Artinya, anak secara sengaja untuk menasihati orangtua lewat mulut orang lain. Kesulitan untuk memberitahu atau mengubah pola pikir orangtua ataupun orang lain karena sebuah informasi yang salah itu akibat era digital yang kehidupannya menginginkan homogen, kesamaan pola pikir.
"Ketika orang ada di suatu echochamber. Ketika berada di satu grup WhatsApp di situ homogen. Wah, ini sangat rentan sekali untuk penyebaran berita enggak jelas. Dan, itu hanya bisa dilawan dengan perimbangan informasi untuk kelompok ini," paparnya.