Terorisme Belum Selesai

Pelaku penyerangan aksi terorisme di Mapolda Riau
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Retmon

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menuturkan mereka berasal dari kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang berafiliasi dengan ISIS Dumai. Selain itu, mereka juga terkait dengan Benny Tresno alias Abu Ibrahim, narapidana tindak pidana terorisme yang tewas saat insiden bentrokan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, lalu, dan juga Wawan Kurniawan alias Abu Afif, narapidana teroris yang juga terlibat bentrok di Mako Brimob, anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) asal Sumatera Selatan (Sumsel).

img_title Gelar Operasi Zebra, Irjen Herry: Keselamatan jadi Budaya Bersama

Menurut Setyo, ada dua orang dari Sumatera Selatan dan empat dari Riau sudah datang ke Mako Brimob beberapa waktu lalu. Tapi karena situasi Mako Brimob sudah kondusif, mereka pulang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dua pulang ke Sumsel sudah ditangkap. Nah, ini empat ke Pekanbaru melakukan penyerangan ke Mapolda Riau, kami patahkan," kata Setyo dalam konferensi pers, Rabu, 16 Mei 2018, sore.

img_title Polda Riau Ikut Lestarikan Lingkungan dengan Tanam 21.000 Pohon

Baca juga: Detik-detik Ipda Auzar Ditabrak Teroris Usai Salat Duha

Bukan tabuh genderang perang

img_title Polda Riau Cek Kesiapan Siaga Bencana, 31.000 Personel Gabungan Dikerahkan

Pengamat Terorisme yang juga Direktur Communty Islamic Ideological Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai aksi di Markas Polda Riau ini masih terhubung dengan aksi-aksi serupa baik di Mako Brimob, maupun Surabaya. Pelakunya masih sama yaitu anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) atau Jamaah Ansharut Tauhid yang berafiliasi dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS.

"Sudah terang benderang. Ini orang yang punya afiliasi yang sama pada ISIS," tegas Harist, saat dihubungi VIVA, Rabu, 16 Mei 2018.

Pelaku penyerang Polda Riau.

Namun dia tidak sepakat bila disebut para teroris itu sudah menabuh genderang perang terhadap polisi dan pemerintah Indonesia. Meskipun ditemukan sebuah surat yang berisi ajakan untuk berjihad. Justru sebaliknya, Harits melihat mereka dalam posisi terjepit.

"Kenapa kemudian di tempat lain juga terjadi serangan itu juga simpel. Densus bergerak, memburu kawan-kawan mereka semua, ruang gerak mereka sempit dan nekat," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam posisi itu, pilihan bagi mereka tinggal dua. Lebih dulu ditangkap atau ditembak mati oleh Densus atau mereka bergerak.

"Kalau mampu, dia serang dulu kantor polisi, kalau rnggak punya bom ya senjata api, kalau enggak punya senjata api ya senjata tajam," urainya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut