Terorisme Belum Selesai
- ANTARA FOTO/Retmon
Harits menegaskan bahwa kelompok teroris itu kini dalam posisi panik dan tegang setelah Densus melakukan operasi penangkapan. Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah berbuat nekat.
"Enggak (bukan menabuh genderang perang). Ini dampak perburuan dari Densus. Kepanikan mereka ini," tuturnya.
Soal meluasnya aksi dari Surabaya ke Riau, Harits mengakui bila jaringan kelompok teroris itu memang ada di seluruh wilayah Indonesia. Mereka sudah berdiaspora meskipun dalam jumlah kecil.
"Biasa sih, Lia Eden yang sesat saja pengikutnya dari mana-mana," tuturnya.
Lebih dari itu, Harits memperkirakan akan ada aksi teror lagi di tanah air. Mengenai di mana lokasinya, dia menjawab: di mana saja para teroris tersebut berada.
Baca: Video Detik-detik Mencekam saat Teroris Serang Polda Riau
Pernyataan Harits mengenai tidak adanya genderang perang sama dengan analisa Kepala Kantor Staf Presiden atau KSP Moeldoko. Mantan Panglima TNI itu juga berpendapat bahwa jaringan teroris saat ini sedang mengalami tekanan karena diburu kepolisian usai kejadian teror di tiga gereja Surabaya, rusun Wonocolo Sidoarjo, serta Mapolrestabes Surabaya.
![]()
Tekanan itu lantas direspons lagi dengan serangan terhadap kepolisian dalam hal ini di Mapolda Riau.
"Kepolisian sedang menekan. Jadi ada reaksi (berupa serangan di Riau). Sudah hukum alam seperti itu," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 16 Mei 2018.
Polri selanjutnya akan merespons serangan terakhir itu dengan kembali memburu para teroris. Moeldoko meminta masyarakat tetap yakin bahwa kondisi negara akan terus aman karena polisi tak pernah merasa gentar akan aksi para teroris.
"Kita serahkan ke kepolisian, kepolisian sekarang sedang melakukan kegiatan (perburuan teroris)," ujar Moeldoko.
Dia juga memastikan meskipun terjadi teror beruntun pemerintah tidak akan mengevaluasi posisi Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan. Ia menegaskan bahwa lembaga-lembaga terkait keamanan dan pertahanan saat ini terus bekerja optimal untuk menjaga stabilitas keamanan negara.
Baca: JK: Teroris Pasti Masuk Neraka
Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui kelompok teroris yang beraksi itu merupakan orang-orang yang terlatih. Mereka bisa mendeteksi intelijen, dan mampu menghindari deteksi polisi.