Jurus Panser Blokir Terorisme

Penanganan terorisme.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rahmad

Bahkan dengan mesin sensor tersebut, Rudiantara percaya diri, penanganan situs dan konten di Kominfo sudah sangat cepat. Ia juga sudah memerintahkan jajarannya, agar dilakukan penyisiran dan crawling yang masing-masing tiap dua jam sekali pada mesin sensor internet tersebut.

img_title Selandia Baru Perketat Medsos: Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Akses TikTok, YouTube hingga X

"Tinggal masukkan keyword, nanti akan muncul situs-situsnya. Sudah enggak perlu jauh-jauh lagi ke Amerika Serikat," jelas Rudiantara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jumlah situs-situs yang di-crawling di Security Operations Center Kominfo.

img_title Heboh Kapal Pesiar Berlogo Kemhan, Brigjen Rico Ungkap Faktanya

Untuk melaporkan konten-konten tersebut, Kemkominfo telah menyiapkan website khusus dengan alamat aduankonten.id. Masyarakat dapat mengakses dengan cara mengirimkan cuplikan atau URL akun yang mengandung konten negatif tersebut. 

"Selain itu, aduan konten juga bisa dikirimkan melalui WhatsApp 08119224545 atau email aduankonten@mail.kominfo.go.id," ujar Rudiantara.

img_title 3 HP Murah untuk Social Media Specialist, Performa Ngebut dan Harganya Nggak Sampai Rp2 Jutaan

Dia mengatakan, untuk mengawasi konten radikal di dunia maya Kominfo tak hanya melakukannya dengan Polri dan BSSN.

"Kami minta masyarakat untuk tenang, tidak usah panik. Dari dunia fisik, dunia nyata, teman-teman BNPT dan Polri bergerak semua. Sedangkan dari dunia maya kami juga bergerak dengan data-data yang kami jelaskan itu,” ujar Rudiantara. 

Jurus panser

Kemkominfo menurutnya juga terus bekerja sama dengan para penyelenggara over the top (OTT). 

Untuk bersih-bersih konten terorisme, pada Selasa 15 Mei atau dua hari sejak teror Bom Gereja Surabaya, Kominfo duduk bersama dengan platform aplikasi media sosial, messenger dan chatting untuk bersih-bersih konten terorisme. 

Data Kominfo per 16 Mei, sehari setelah bertemu dengan platform internet, tercatat Telegram telah menurunkan (take down) 287 konten, Facebook dan Instagram (300 konten), YouTube menerima 250 aduan dan per 16 Mei sudah menurunkan sekitar 40 persen dari aduan yang diterima. Sedangkan Twitter per tanggal tersebut menerima 60-70 aduan dan setengahnya sudah diturunkan.

Langkah Kominfo tak berhenti dengan meminta platform media sosial untuk berpatroli dan menyisir konten terorisme. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rudiantara mengatakan, Kominfo sudah ancang-ancang untuk menindak platform internet yang ketahuan membiarkan konten terorisme. Belajar dari Jerman, Rudiantara mengatakan, Kominfo tak segan menindak platform media sosial yang melakukan pembiaran. 

"Saat ini kami sedang membuat aturan untuk menjerat platform-platform yang melakukan pembiaran konten yang berisi radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut