Menakar Golkar Tanpa Trah Soeharto
- ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Namun ada potensi suara yang tergerus. Penggemar Soeharto menjadi alasan peluang tergerusnya suara Golkar. Penggemar Soeharto ini melihat keberadaan trah Soeharto di Golkar.
![]()
Foto: Presiden RI ke-2 Soeharto.
Bagi dia, sejarah Golkar yang eksis selama Orde Baru dan besar sampai sekarang tak bisa dilepaskan dari jasa Soeharto.
"Ini enggak bisa dianggap remeh. Loyalis penggemar Soeharto itu masih punya memori, kenangan Orde Baru dan Soeharto masih punya suara ke Golkar," ujar Hendri kepada VIVA, Selasa, 12 Juni 2018.
Baca: Kebangkitan Trah Soeharto
Namun, di sisi lain, memang kenangan Soeharto sulit dijual kepada pemilih milenial yang punya angka besar di Pemilu 2019. Kendati demikian, seharusnya, Golkar bisa menjaga trah Soeharto di era pemilih sekarang.
"Ya, seharusnya dijaga karena tahun politik sekarang berat persaingannya. Apalagi dengan batas parliamentary threshold 4 persen," kata Hendri.
Golkar Must Go On
![]()
Foto: Golkar saat Munaslub pada akhir 2017
Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia menekankan keluarnya Titiek tak akan terlalu berpengaruh terhadap Golkar. Ia menekankan, Golkar saat ini dan ke depan harus benar-benar mandiri. "Maju mundurnya Golkar akan ditentukan sendiri oleh pimpinan dan kader partai," jelas Doli.
Doli menyebut Partai Golkar sejak era Reformasi punya ciri dan tak bisa dikaitkan dengan stigma serta pengaruh masa lalu. Transformasi Golkar sebagai partai politik yang punya ciri khas harus terkonsolidasi secara utuh.
"Kami tetap menghargai sejarah yang tak bisa kami pungkiri. Tapi, Golkar must go on, menatap masa depan politik, demokrasi, dan Indonesia yang lebih baik," ujar Doli.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional Median, Rico Marbun menyebut keluarnya Titiek berpeluang menggerus suara Golkar. Ia menilai keluarnya Titiek bertepatan dengan momentum transisi pergantian kepemimpinan Golkar. "Jelas keluarnya Titiek berpeluang menggerus suara Golkar," kata Rico kepada VIVA, Selasa, 12 Juni 2018.
Baca: Idrus: Titiek Soeharto Guyon Keluar dari Golkar
Dia menganalisis pasca keluarnya tokoh-tokoh Golkar dengan membentuk partai sendiri, suara Golkar belum pulih. Hal ini merujuk hasil Pemilu Legislatif 2009 dan 2014, Golkar tersisih di posisi dua. Ia menyebut keluarnya Wiranto dengan membentuk Hanura, kemudian Prabowo Subianto mendirikan Gerindra, lalu Tommy Soeharto dengan Nasrep berpengaruh terhadap suara Golkar.