Menakar Golkar Tanpa Trah Soeharto

Siti Hediyati Hariyadi atau Titiek Soeharto (kanan) bersama Tommy Soeharto (kiri) berkumpul di Partai Berkarya
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

"Munculnya partai sempalan dari mantan tokoh, suara Golkar sampai sekarang belum benar-benar pulih lagi," ujar Rico.

img_title Nusron Dua Kali Absen dari Panggilan KPK, Bahlil Angkat Bicara

Keputusan mundur dari Golkar harus membuat Titiek merelakan statusnya sebagai anggota DPR. Titiek lolos sebagai anggota DPR periode 2014-2019, dari daerah pemilihan Yogyakarta. Ia saat itu meraih suara tertinggi dengan menyisihkan incumbent yang juga Ketua DPD Golkar Yogya, Gandung Pardiman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski terhitung baru sebagai anggota DPR, Titiek pernah masuk bursa ketua umum dalam Munaslub Golkar, akhir 2017 lalu. Saat itu, Titiek memilih mundur sehingga Airlangga Hartarto melenggang mulus menjadi Ketum Golkar secara aklamasi. Titiek juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Golkar era kepemimpinan Aburizal Bakrie dan Setya Novanto.

img_title Bahlil: Golkar Lahir Bukan Ingin Jadikan Ketumnya Presiden

Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto (kedua kanan)

Foto: Putra bungsu sekaligus pendiri Berkarya, Tommy Soeharto.

img_title Idrus Marham Yakin Golkar Jadi Partai Masa Depan di Bawah Bahlil-Sarmuji

Berkah Berkarya

Rico melihat kepindahan Titiek ini justru memberikan keuntungan bagi Berkarya. Ia melihat pergerakan partai besutan Tommy ini serius ingin menembus parlemen pada 2019.

Selain ada sejumlah nama tokoh senior di internal partai, ada mantan politikus Golkar seperti Priyo Budi Santoso yang diplot sebagai Sekretaris Jenderal DPP Berkarya. Belum lagi ada kabar putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana juga akan merapat ke Berkarya.

"Berkarya serius. Tommy tak ingin kegagalan Pemilu 2014 terulang," sebut Rico.

Baca: Berkarya Jual Kenangan Orba, Priyo: Soeharto Mirip Mahathir

Manuver Berkarya dengan mengandalkan trah Soeharto tak salah. Sebab sejumlah partai ada masing-masing trahnya. Ia menyebut PDIP ada trah Soekarno. Kemudian, Demokrat ada trah Susilo Bambang Yudhoyono yang terdapat pada Agus Harimurti Yudhoyono.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi kenapa tidak dengan trah Soeharto. Ini mungkin yang dipikirkan Titiek dan Tommy," ujarnya.

Namun, ia mengingatkan menjual kenangan Orba harus bisa menarik suara milenial. Saat ini, hampir setiap partai menargetkan merebut suara milenial. Bukan hal mudah bagi Berkarya bersaing dengan partai lain termasuk Golkar. "Tentu Partai Berkarya harus mampu merebut hati pemilih milenial. Pemilih yang tidak begitu familiar dengan nama Soeharto," tutur Rico. (umi)

Ilustrasi/Simpatisan dan kader Partai Gerindra.

Survei IPO: Elektabilitas Gerindra Teratas Capai 23,1%, Disusul PDIP dan Golkar

Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei terkait elektabilitas partai. Hasilnya, Partai Gerindra mencapai posisi teratas dengan elektabilitas 23,1 persen

img_title
VIVA.co.id
25 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut