Menanti Kejutan Pilkada Serentak
- ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Di Jawa Timur, sebagai wilayah dengan DPT ketiga terbanyak se-Indonesia, persaingan antara Syaifullah Yusuf-Puti Soekarno dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak juga lumayan sengit. Empat lembaga survei, yaitu Populi Center, Charta Politica, SMRC, Roda Tiga Konsultan, dan Polltracking Indonesia menunjukkan angka kemenangan membayangi Khofifah-Emil Dardak. Namun selisihnya sangat tipis, hanya berada pada kisaran satu hingga delapan persen.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR mengatakan, meski Gus Ipul pernah menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur, namun elektabilitasnya tersisih oleh Khofifah. Gus Ipul juga mendapatkan dukungan penuh dari sejumlah kiai, termasuk dari kiai di Madura. Tapi warga Jawa Timur sepertinya kepincut pada sosok Khofifah yang sempat mencicip jabatan sebagai Menteri Sosial. Apalagi, Gus Ipul kerap dikaitkan dengan latar belakang pendidikan dan ijazahnya. Latar belakang pendidikan Khofifah-Emil Dardak menjadi jualan utama bagi pendukung pasangan tersebut.
"Bu Khofifah dan Emil Dardak itu dipersepsikan oleh publik itu relatif lebih kompeten jadi figur yang lebih cerdas dan berprestasi, itu ada datanya pernah kita rilis beberapa bulan yang lalu. Sehingga pemilih rasional itu juga mempertimbangkan menyasar itu ditambah tentu basis sosiologis," ucap Hanta dalam pemaparan di Hotel Sari Pacific, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu, 23 Juni 2018.
Sementara di Sumatera Utara hasil polling masih merata. Belum ada kandidat yang dianggap paling kuat untuk memenangkan Pilkada. Ada tiga pasangan Cagub-Cawagub untuk berkompetisi memperebutkan posisi nomor satu di Sumatera Utara, yaitu Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, dan pasangan JR Saragih-Ance Selian. Lembaga survei Media Survei Nasional atau Median mengatakan, posisi pasangan Edy-Musa berada di peringkat pertama, pasangan Djarot-Sihar di peringkat kedua, dan JR Saragih-Ance di posisi terakhir. Namun selisih mereka sangat tipis.
Meski pernah sukses memimpin DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama, namun popularitas Djarot di Sumatera Utara tak serta merta terdongkrak. Pemilih di Sumatera Utara lebih banyak yang tertarik mengikuti Pilkada. Direktur eksekutif Lembaga Survei Stratak Indonesia, Octarina Soebardjo mengkhawatirkan hasil temuan lembaganya yang mengindikasikan kemungkinan rendahnya partisipasi pemilih di Sumatera Utara.