Membentengi Bumi dari Tiga Asteroid
- www.pixabay.com/TBIT
2017 VR12 melesat dengan kecepatan sekitar 14.092 mil per jam dalam radius sekitar empat kali jarak antara Bumi dan Bulan, atau 897.161 mil.
Penyidik NASA, Dante Lauretta, memprediksi bahwa asteroid tersebut tidak akan menghantam Bumi. Apabila terjadi, asteroid ini akan melepaskan energi lebih banyak daripada semua senjata nuklir yang pernah diledakkan sepanjang sejarah manusia.
"Dampaknya adalah kawah seluas lebih dari dua mil akan tercipta dan membunuh jutaan orang bila jatuh di daerah padat penduduk," tegas Dante.
Peneliti dari Pusat Penelitian Atmosfer Nasional di Colorado, Amerika Serikat, Charles Bardeen menambahkan, batuan luar angkasa dengan luas lebih dari satu kilometer mampu membuat kebakaran hutan akibat membuang debu dan abu dalam jumlah besar ke udara.
Selain itu, sisa-sisa batu antariksa itu tetap 'menempel' pada atmosfer selama 10 tahun, sehingga akan menghalangi sinar Matahari.
"Skenario terburuk ini bisa membuat suhu di Bumi turun dan kemungkinan besar sektor pertanian akan mengalami gagal panen selama bertahun-tahun," katanya, mengingatkan.
Superfireball
Selain berukuran raksasa, ada pula asteroid lebih terang yang terbang mendekat ke Bumi. Minggu, 3 Juni 2018, sebuah asteroid melewati langit Indonesia dari wilayah timur.
Asteroid ZLAF9B2 yang berdiameter 2 sampai 5 meter dan massa 240 ton itu pada Sabtu malam 2 Juni 2018 pukul 22.00 sampai 22.30, melintasi langit Pulau Irian sampai Pulau Sumba.
Astronom amatir, Ma'rufin Sudibyo menjelaskan, dia dan penikmat astronomi sebelumnya telah memprediksi asteroid ZLAF9B2 bakal jatuh di wilayah Indonesia bagian tengah-timur.
Namun perkiraan mereka meleset. Asteroid ZLAF9B2 ternyata jatuh di Botswana Afrika pukul 23.44 WIB atau sejam lewat hampir 15 menit setelah melintas terakhir di atas langit Pulau Sumba.
"Sebelum jatuh ke Bumi, tepatnya ke atmosfer Bumi, asteroid menjadi superfireball atau superboloid," ujar Ma'rufin kepada VIVA. Ia mengungkapkan, asteroid ini ditemukan astronom beberapa jam sebelum jatuh ke Bumi.
Sistem Catalina Sky Survey yang bermarkas di Amerika Serikat mendeteksi batu antariksa ini. "Namun karena profil orbitnya belum jelas pada saat itu ditambah prakiraan bakal jatuh di Indonesia bagian tengah-timur, maka ada kesalahan. Asteroid tak terlihat," jelasnya.