Gaduh Medsos, Berisik Dunia Politik

Ilustrasi media sosial.
Sumber :
  • REUTERS/Dado Ruvic

Perang Media Sosial Membahayakan?

img_title 7 HP Terbaik untuk Reseller yang Dipakai 3–5 Tahun, Harganya Murah dan Memiliki Penyimpanan Besar

Ismail Fahmi melihat, perang media sosial yang sekarang terjadi akan berpotensi meningkat eskalasinya saat hari pemilihan makin mendekat. Dia memperingatkan, pola-pola perang kampanye melalui media sosial itu akan lebih dahsyat di masa mendatang, bahkan sampai Pemilu Presiden selesai. Semua kubu akan lebih giat memproduksi konten-konten kampanye hal positif calon jagoannya dan sekaligus konten-konten negatif untuk kubu lawan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Masalahnya, kata dia, tak semua konten yang diproduksi itu bersifat positif. Sebab hal yang sering terjadi justru hanya caci-maki atau sumpah serapah maupun semacam kampanye negatif (black campaign). Bahkan, sebagian besar pengguna media sosial hanya melihat judul yang provokatif tanpa membaca atau menyimak substansi pesannya.

img_title Remaja Jepang Tolak Medsos Dibatasi

“Itu pembodohan. Orang hanya melihat judul, isi artikel tidak peduli lagi. Ini berbahaya, kita harus melakukan sesuatu. Publik tidak murni terpecah menjadi dua, ada yang di tengah. Nah, yang di tengah itulah yang bisa diharapkan sebagai juru penengah,” ujarnya. 

Selain menggunakan tagar, pola lain yang sering digunakan sebagai amunisi dalam perang media sosial adalah mention, retweet, meme, video, dan artikel. Bahkan, ujar Ismail, biasanya "key maker" dari masing-masing kubu akan saling mem-follow. Tapi tujuannya bukan untuk me-retweet, tapi untuk saling melakukan mention. Untuk retweet sering kali akun yang me-retweet adalah akun anonim atau akun yang menggunakan nama palsu. "Dan itu dilakukan untuk mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran," ujarnya menambahkan. 

img_title Demo 27 Agustus, Komdigi Minta Masyarakat Tak Sebar Ujaran Kebencian dan Provokasi di Media Sosial

Tapi kecemasan Ismail Fahmi ditanggapi santai oleh politisi Partai Solidaritas Indonesia Guntur Romli. Menurut Guntur, perang media sosial justru lebih baik ketimbang perang di dunia nyata. "Kalau perang mulut dan gontok-gontokan itu di dunia nyata justru lebih berbahaya. Kalau di media sosial kan kita saling mention dengan keriuhannya tapi itu hanya di dunia maya, yang tidak melibatkan hal yang fisik," ujar Guntur saat memberikan pernyataannya di ILC, Selasa, 21 Agustus 2018.

Menurut Guntur, media sosial sangat tergantung pada pemilik akun, jadi pengelolaannya akan tergantung pemikiran pemilik akun tersebut. "Terkait medsos siapa yang menggunakan siapa pelakunya, jadi secanggih apa pun senjatanya tetap tergantung manusianya. Kalau manusianya ingin menggunakan hal yang positif produknya akan positif, nah sisi positif dari medsos dalam konteks demokrasi kita sangat menyehatkan," ujar Guntur.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut