Gaduh Medsos, Berisik Dunia Politik
- REUTERS/Dado Ruvic
Robot Buzzer, Robot Polling, dan Bayaran Tinggi
Menurut Ismail, kegaduhan di media sosial juga tak alami. Kecanggihan teknologi memungkinkan buzzer yang sebelumnya manual, kini mulai tergantikan oleh robot.
Dalam analisis percakapan media sosial dengan menggunakan tool Drone Emprit, Ismail menemukan keterlibatan robot buzzer yang turut bermain dalam meramaikan media sosial. Menariknya, dua kubu politik itu sama-sama mengerahkan robot buzzer. Ia menambahkan, dalam pemantauan media sosial periode 7 Agustus sampai 14 Agustus 2018, Drone Emprit melihat robot buzzer terpisah dari jemaah masing-masing.
Menggunakan robot buzzer itu dapat menjamin satu tagar menjadi trending topic dengan mudah meski berbiaya. “Biayanya antara sepuluh juta sampai lima belas juta rupiah per lima jam untuk bisa trending topic. Publik sebenarnya tidak melihat pesannya, tapi hanya hashtag-nya,” kata Ismail.
Wujud lainnya perang media sosial dalam Pilpres 2019 yakni munculnya robot polling. Ismail mengatakan robot polling bertujuan memenangkan polling di media sosial sesuai pesanan, dan memang ada penyedia jasanya. Ismail juga membongkar bagaimana jasa robot polling bekerja. Dia menjelaskan, pasukan robot polling akan dikerahkan untuk mendongkrak suara tertentu, terutama menjelang akhir masa polling.
"Cara kerjanya, si buzzer di dalam peternakannya sudah memiliki puluhan ribu hingga ratusan ribu akun robot. Pada saat sebuah polling Twitter dilakukan, mereka melihat posisi target. Pada saat yang tepat ribuan atau puluhan akun digunakan untuk 'ngevote' salah satu target," tulis Ismail di akun Facebooknya yang dikutip pada Selasa, 21 Agustus 2018.
![]()
Robot polling ini akan makin masif menjelang masa kritis, yakni menjelang voting berakhir. Penyedia jasa robot polling mengerahkan sisa kekuatan untuk mendapatkan hasil vote tertinggi. "Kubu yang tidak siap dengan robot, dan hanya mengandalkan user natural, pasti tidak akan bisa ngejar dalam waktu hanya beberapa menit saja. Akhirnya yang pakai robot akan menang," tuturnya.
Kekhawatiran merebaknya isu karena penggunaan robot buzzer menjadi salah satu aspek negatif dari meluasnya penggunaan media sosial. Hal tersebut disadari oleh Partai Keadilan Sosial. Sebagai bagian dari bentuk dan upaya pencegahan agar tak terjadi penyebaran berita hoax atau fitnah, politisi PKS Mardani Ali Sera mengatakan partainya sudah siap menyusun fikih sosmed.