Silat Lidah WhatsApp
- REUTERS/Mal Langsdon
VIVA – Pengguna WhatsApp diminta untuk berhati-hati. Sebab, aplikasi pesan instan milik Facebook ini tidak mengenkripsi pesan pribadi user atau pengguna di Google Drive, sehingga peretas atau hacker dengan bebas bisa membaca.
Berawal dari niat WhatsApp yang akan menghapus semua data obrolan, foto, dan video pengguna pada 12 November 2018. Perubahan sistem ini mengikuti kesepakatan antara Facebook, melalui WhatsApp dan Google, dengan Google Drive-nya.
Mengutip situs Metro, Selasa, 28 Agustus 2018, dengan adanya celah ini maka hacker bisa mengetahui isi pembicaraan pengguna secara detail melalui pesan pribadi, yang dianggap sebagai 'harta karun' karena berisi informasi sensitif. Hal tersebut juga diakui oleh WhatsApp melalui situs web-nya.
Parahnya lagi, bak bersilat lidah, WhatsApp juga menjelaskan kepada pelanggan bahwa backup Drive tidak dienkripsi sudah ada di masa lalu, atau jauh sebelum kemitraan Facebook dan Google diumumkan. "Pesan yang Anda cadangkan tidak dilindungi oleh enkripsi end-to-end saat berada di Google Drive," demikian pernyataan resmi WhatsApp.
Pernyataan aplikasi yang dibeli Facebook pada 2014 ini jelas menimbulkan kekhawatiran bahwa peretas, polisi, atau bahkan mata-mata pemerintah, bisa leluasa mengakses data pribadi jika mereka memperoleh akses ke akun Google Drive seseorang.
Kuncinya di user
Di mata Alfons Tanujaya, keamanan data bukan tergantung dari penyimpanan online maupun offline, karena memiliki banyak kelemahan. "Menurut saya itu sesuatu yang salah kaprah dan inevitable. Kalau ada yang bilang menyimpan data di cloud itu lebih enggak aman daripada menyimpan data di lokal, ya, itu ada benarnya secara psikologis," kata dia kepada VIVA.
Alfons melanjutkan bahwa pengguna merasa aman karena melihat datanya disimpan di hard disk. Akan tetapi harus diingat, penyimpanan lokal memiliki banyak kelemahan. Pakar keamanan internet dari Vaksincom ini mengungkapkan, aman tidaknya data yang disimpan, baik di sistem online maupun offline, tergantung dari penggunanya.
"Tujuh puluh persen user-lah yang menentukan. Sisanya berdasarkan penyedia layanan. Poin pentingnya adalah bagaimana cara penyedia online mengamankan data dengan baik. Saya melihat sejauh ini WhatsApp masih berada di tahap aman," jelasnya.