Obat Kuat Pelemahan Rupiah

Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

VIVA – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini hingga menyentuh level psikologis di atas Rp14.800 per dolar AS, memicu spekulasi apakah RI kembali masuk ke pusaran krisis ekonomi global. 

img_title Rupiah Terseret Harga Minyak, Dibuka Melemah ke Rp17.803 per Dolar AS

Mengingat gejala-gejala krisis itu menular persis yang terjadi pada 1998. Di mana dipicu krisis mata uang negara berkembang yang dimulai dari Thailand, kemudian ke Indonesia. Sementara di 2018 dimulai dari Turki yang saat ini sudah menular ke Argentina dan berisiko menghantam negara-negara berkembang lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, kondisi pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan 1998. Sebab, pelemahan yang terjadi tidak drastis dan rupiah menyentuh level di atas Rp14 ribu juga pernah terjadi pada 2014 lalu. 

img_title Rupiah Melemah Saat Ancaman Tarif Baru AS Menguat, Ekspor Indonesia Disebut Terancam Terpukul

Baca juga: Sri Mulyani Ungkap Fakta Penyebab Loyonya Rupiah

"Jangan dibandingkan Rp14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu. 20 tahun lalu berangkatnya dari Rp2.800 ke Rp14 ribu. Sekarang dari Rp13 ribu ke Rp14 ribu. Tahun 2014, dari Rp12 ribu ke Rp14 ribu," jelas Darmin di Jakarta, Selasa 4 September 2018. 

img_title Rupiah Tembus Rp18.049 dan IHSG Ambruk, DPR Sebut Investor Global Sedang ‘Menghukum’ Indonesia

Hal senada disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara. Menurutnya, sudah sangat siap dan baik dalam menghadapi krisis. 

Hal itu salah satunya dibuktikan dengan perbaikan rating utang yang signifikan dari lembaga rating internasional.

"Pelemahan kurs rupiah belum terlihat dampaknya pada Agustus 2018 yang justru mencatat deflasi," ujarnya kepada VIVA, Selasa 4 September 2018. 

Kinerja ekonomi 1998 menurutnya, juga merosot ke level negatif 13,6 persen. Sedangkan, saat ini pertumbuhan ekonomi berada di 5,2 persen per kuartal II-2018. 

Baca juga: Strategi Pengembang Tetap Untung di Tengah Perkasanya Dolar AS

Inflasi pun dikatakannya sempat naik hingga 77 persen saat krisis moneter atau krismon, sedangkan sekarang cukup stabil di bawah 3,5 persen. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat pun tidak tergerus. 

"Pelemahan kurs rupiah belum terlihat dampaknya pada Agustus 2018 yang justru mencatat deflasi," tuturnya.

Obat Kuat

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meskipun beberapa indikator menunjukkan perbaikan Bhima mengatakan, RI harus mewaspadai defisit transaksi berjalan yang menembus 3 persen terhadap PDB pada kuartal II-2018. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut