12 Vaksin Anak Negeri yang Mendunia
- ANTARA FOTO/Ampelsa
Kedua ialah penanaman virus atau bakteri pada suatu media yang sudah dimurnikan. Caranya dengan menumbuhkannya dalam reaktor.
"Ketika bakteri sudah memenuhi standar jumlah tertentu, maka akan dipanen. Dengan penyaringan atau menambah protein," ujarnya.
Â
Tahap berikutnya, melakukan pelemahan atau inaktivasi virus atau bakteri. Lalu, dilakukan pemurnian pada proses purifikasi, untuk menghilangkan zat-zat yang tidak relevan dengan produk vaksin.
"Filterisasi dilakukan dengan memberikan tekanan tertentu, agar larutan yang ingin dimurnikan masuk melalui membran penyaringan. Dilakukan hingga hanya tersisa komponen yang diinginkan," tuturnya.
Langkah selanjutnya, vaksin diformulasi dengan zat tambahan, seperti pengawet. Terakhir, melakukan pengisian vaksin ke dalam kemasan disertai pemasangan label.
Neni menimpali, pembuatan vaksin tidak mudah. Rangkaian prosesnya perlu waktu enam hingga delapan bulan, tentu berbeda dengan membuat resep masakan. Juga harus memenuhi sistem yang ditetapkan BPOM dan WHO.
Apresiasi Menkes
Salah satu upaya yang tengah digencarkan pemerintah dalam penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) Difteri adalah outbreak respons immunization (ORI). Sebanyak tiga putaran imunisasi dilakukan untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri penyebab Difteri, corynebacterium diphteriae.
![]()
Tidak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan ORI tersebut membawa konsekuensi terhadap melonjaknya kebutuhan akan tiga jenis vaksin yang mengandung Difteri (DPT-HB-Hib, DT dan Td) yang digunakan untuk kegiatan ORI dan kegiatan imunisasi rutin.
Seperti diketahui, dalam menghadapi KLB Difteri, Biofarma menambah kapasitas produksi vaksin yang mengandung Difteri dengan memaksimalkan (meningkatkan) produksi dari kapasitasnya semula 15 juta vial per tahun menjadi 19,5 juta vial.
"Cukup. Untuk upaya penanggulangan KLB Difteri sebanyak 19,5 juta vial tahun 2018 akan tersedia untuk Indonesia", tutur Menkes dalam website resmi Kemenkes dikutip Selasa 25 September 2018.
Lebih lanjut Menkes juga mengungkapkan kebanggaannya  terhadap Biofarma yang sudah lebih dari satu abad lamanya berkiprah dalam pengembangan vaksin untuk pencegahan penyakit. Apalagi kualitas dan keamanan produknya telah diakui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan dipergunakan tidak hanya di Indonesia, namun diekspor ke 130 negara, termasuk ke 57 negara islam, salah satunya Saudi Arabia.
"Apa yang kita sama-sama sudah lihat, jelas sekali membuat vaksin itu sangat tidak sembarangan", ujar Menkes.