Menyusuri Singkawang, Tiongkok Masa Silam
- VIVA.co.id/Rochimawati
VIVA – Kota Singkawang Kalimantan Barat memang tidak setenar Pontianak yang menjadi ibu kota provinsi. Namun rasanya tidak akan lengkap jika mengunjungi Bumi Khatulistiwa ini tanpa singgah ke kota yang dijuluki Sejuta Kelenteng.Â
Jarak perjalanan dari Pontianak ke Singkawang sejauh 151 kilometer atau sekitar tiga hingga empat jam perjalanan. Berdasarkan cerita, beberapa puluh tahun yang lalu, Singkawang menjadi kota persinggahan para penambang emas asal China sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Monterado yang saat ini menjadi Kabupaten Bengkayang.Â
Para penambang yang berbahasa China dengan logat Khek menyebut kota ini dengan sebutan San Keuw Jong, yang artinya kawasan dengan mata air mengalir dari gunung sampai ke laut. Kota ini dikeliling oleh Pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok.
Banyaknya penduduk keturunan Tionghoa yang memeluk Buddha dan Khonghucu membuat kota ini banyak berdiri bangunan vihara atau kelenteng. Bahkan kota ini dijuluki ‘Kota Seribu Kelenteng’ .Â
Menjelajahi Singkawang pun rasanya tak akan puas jika belum menelusuri sejumlah bangunan bersejarahnya. Singkawang menyimpan banyak warisan budaya, dan VIVA berkesempatan menelusuri sejumlah warisan budaya tersebut.Â
Rumah kediaman TjhiaÂ
Tiga bangunan kayu ala Tiongkok kuno terlihat berdiri kokoh saat memasuki pintu gerbang yang berada di belakang rumah toko (ruko) Jalan Budi Utumo, dan di pinggir Sungai Singkawang, tepatnya di Gang Mawar No.36. Â
Rumah keluarga Tjhia Hiap Seng ini konon sudah berusia  100 tahun lebih, saat ini dihuni oleh generasi keenam. Rumah ini dibangun oleh Tjhia Hiap Seng (Xie Feng Chen) pada 1902 sebagai perintis pertamanya. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 5.000 meter persegi.Â
Bangunan rumah keluarga Tjia identik dengan arsitektur bangunan tradisional China. Halamannya dikelilingi bangunan di keempat sisinya. Rumah ini ditinggali oleh setidaknya 10 keturunan keluarga Tjhia yang akhirnya membentuk yayasan Keluarga Tjhia.Â
![]()
Rumah ini merupakan hibah dari pemerintah kolonial Belanda, karena pada awalnya Xie merupakan seorang pendatang dari Tiongkok yang bersama kawan-kawannnya mengarungi lautan untuk mengubah nasib.Â
Saat itulah mereka kemudian singgah di semenanjung Malay (atau Malaysia), namun saat yang sama terjadi kerusuhan dengan pribumi setempat, hingga mereka pun pergi dengan kapal kecil dan sampai di Singkawang.Â