Politikus Sontoloyo Ala Jokowi
- VIVA/Nur Faishal
Terkait pernyataan Jokowi itu, Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengingatkan bahwa tekad awal pemilu seperti yang disepakati antara semua stakeholders terkait pemilu adalah mewujudkan pemilu damai. Untuk mewujudkan itu, lanjut Wiwiek, sapaan akrabnya, perlu didukung prakondisi yang kondusif termasuk di dalamnya untuk tidak bertutur kata dan berperilaku yang membuat polemik, kegaduhan, konflik dan kerusuhan.
Menurut Wiwiek, kesepakatan tersebut seharusnya ditaati oleh semua pihak, baik calon maupun partai-partai pendukung, masyarakat dan media. Ujaran-ujaran yang disampaikan para calon akan direspons secara luas termasuk apa yang disampaikan petahana tentang politikus sontoloyo.
"Istilah itu tentunya mengundang komentar kubu lawan dan kritik medsos. Sehingga yang muncul adalah isu menyoal apakah kata-kata tersebut patut atau tidak patut," kata Wiwiek kepada VIVA, Rabu, 24 Oktober 2018.
Wiwiek mengatakan sebagai seorang presiden, Jokowi sebaiknya tidak melontarkan kata yang bisa memicu polemik di tingkat masyarakat. Terlebih, saat ini tengah memasuki masa kampanye Pilpres 2019.
"Sebagai RI 1 agaknya kurang proper mengatakan itu secara eksplisit. Perlu kosakata yang lebih tepat supaya tidak menimbulkan respons balik yang juga negatif," tutur dia.
Seolah sadar pernyataannya bisa memicu polemik, Jokowi lantas memberi penjelasan lanjutan mengenai istilah politikus sontoloyo. Menurutnya, menjelang pemilu, banyak cara yang tidak sehat yang digunakan oleh politikus, segala jurus dipakai untuk memperoleh simpati rakyat.
Hanya cara yang digunakan untuk meraih simpati masyarakat itu, menurut Jokowi, justru tidak beradab sama sekali. Bahkan, tidak ada tata krama.
"Itu yang enggak sehat seperti itu," kata Jokowi.
Jokowi melanjutkan zaman sekarang menurutnya bukan lagi menggunakan model kampanye, yang adu domba dan pecah belah masyarakat. Bukan zamannya lagi politik kebencian. Tetapi, saat ini adalah politik adu program, adu ide dan adu gagasan, untuk membangun Indonesia ke depan.
"Kalau masih pakai cara-cara lama seperti itu, masih memakai politik kebencian, politik SARA, politik adu domba, politik pecah belah itu namanya politik sontoloyo," tegasnya.