Selamat Tinggal Pernikahan Anak
- Pixabay
Selain itu juga ada dampak ekonomi karena harus ikut menghidupi keluarga. Perempuan yang menikah di usia sangat muda akan kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Ujung-ujungnya, mengcreate poverty (kemiskinan). Padahal banyak yang berharap dengan menikah, masalah ekonomi bisa selesai. Tapi faktanya, justru menambah masalah baru.
Ini semua, harus disadari akan mengarah pada indeks pembangunan manusia. Jika perkawinan anak terus terjadi, indeks manusia lambat laun akan mengancam indeks pembangunan manusia. Jika seperti ini, perempuan rentan mengalami KDRT. Bahkan, jika sudah memiliki anak, anaknya berisiko meninggal dunia atau bahkan terlantar.
"Jadi beban yang harus diterima anak-anak ini bertubi-tubi ini yang tidak bisa kita biarkan," kata Lenny.
Usia Tepat Menikah
Agar pernikahan tak menjadi beban, maka harus direncanakan dengan matang. Usia menikah yang ideal pun harus dipertimbangkan.
Mengenai hal ini, Kak Seto menilai, usia ideal perempuan untuk melangkah ke jenjang pernikahan bukanlah usia 16 tahun. Idealnya, perempuan menikah itu di usia 24-25 tahun. "Karena sudah matang menjelang menatap masa dewasa muda. Tapi paling tidak usia ini juga tidak bertentangan dengan UU Perlindungan Anak," ujarnya.
Kak Seto menuturkan, secara psikologis, usia 24-25 tahun adalah usia matang seseorang untuk berbagi kehidupannya bersama dengan pasangan. Di usia ini, perempuan sudah baik dalam kematangan bersosialisasi, menghargai adanya perbedaan, dan tidak hanya mengedepankan ego masing masing. Di usia ini, biasanya, seseorang mulai bisa berkorban, saling bisa memahami perasaan, dan sebagainya.
"Jadi itu yang paling ideal untuk yang kami amati dalam menangani kasus-kasus keretakan dalam keluarga."
Diharapkan dengan usia pernikahan yang matang, perempuan bukan hanya bisa terhindar dari KDRT, tapi juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak minimal 12 tahun hingga SMA.
"Jika perempuan sudah matang dalam memilih jodoh, itu bisa menyesuaikan diri dengan pasangan, karena dalam konflik perkawinan, bukan egoisme dari laki-laki saja tapi dari perempuan," ujar Kak Seto menambahkan.
Hal yang sama disampaikan psikolog Meity Arianty. Menurut dia, usia ideal menikah adalah kisaran 21-25 tahun. "Usia 21 bagi wanita dan 25 bagi pria dianggap sudah cukup matang untuk membina keluarga," ujar Meity.