Jangan Sampai Main-main sama Bencana

Kondisi Pantai Anyer dan Carita Pasca Tsunami
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Namun, menurut dia, para peneliti awalnya belum bisa memastikan jikalau tsunami ini murni dampak erupsi dari Gunung Anak Krakatau atau dipicu pula adanya faktor lain.

img_title 5 Fakta Dentuman Misterius di Bandung, Mungkinkah Fenomena Skyquake?

Berdasarkan catatan dari Badan Geologi, awalnya letusan tersebut tercatat sebagai letusan kecil dan tidak membahayakan. Namun, nyatanya jika dilihat dari citra satelit, memang ada bagian gunung yang runtuh sehingga hal tersebut yang diidentifikasi sebagai penyebab utama tsunami.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data satu hari sebelumnya juga menyebutkan adanya erupsi, namun dalam kelas Stromboli yakni erupsi kecil yang dianggap tidak membahayakan meski jangka waktunya diketahui lebih lama. Kondisi itu yang menyebabkan pihak-pihak terkait bagai kecolongan dalam memprediksi bencana tsunami. 

img_title BMKG Ungkap Dentuman di Bandung Tak Berkaitan dengan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasannya

Gumpalan awan menyembur saat terjadi letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten

Pada Minggu, 23 Desember 2018, kemudian telah dilakukan pemantauan melalui udara menggunakan pesawat Grand Caravan Susi Air.

img_title BMKG Deteksi Lonjakan 2.671 Titik Panas Sumatera, Sumsel Terbanyak

"Dengan jalan itu pun kita masih belum bisa memperkirakan penyebab tsunami karena Anak Gunung Krakatau masih tertutup material," katanya.

Dari blog Dongeng Geologi, yang digagas pakar geologi Rovicky Dwi Putrohari, berjudul “Longsoran Anak Krakatau Picu Tsunami Anyer” dan dikutip melalui situs web geologi.co.id, BMKG menyebutkan, 30 menit sebelum tsunami, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi.

Berdasarkan blog itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga merekam adanya perubahan pada sisi barat gunung yang sebelumnya dipantau pada 11 Desember 2018.

Sementara itu, Rovicky dalam wawancaranya dengan tvOne pada Minggu 23 Desember 2018, mengatakan, jika hipotesanya biang tsunami Anyer adalah aktivitas Gunung Anak Krakatau, menurutnya, perlu melihat perubahan morfologi gunung tersebut. 

"Kalau diawasi sebelumnya, apakah ada perubahan atau tidak. Kemungkinan yang di atas longsor terus masuk ke bawah dan memicu longsoran di bawah lagi dan sebabkan tsunami," kata dia dalam wawancara dengan tvOne itu. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan, dengan kondisi Gunung Anak Krakatau yang dinamis dan terus berubah bahkan kritis, gangguan kecil saja di gunung tersebut bisa mendatangkan longsoran. Gangguan yang dimaksud yakni berupa getaran atau goyangan dari aktivitas vulkanik maupun tektonik.

"Gangguan kecil ini bisa saja, adanya getaran atau goyangan. Bisa juga penambahan material juga perubahan muka air laut," tuturnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut