Jangan Sampai Main-main sama Bencana
- VIVA/Muhamad Solihin
Dia mengatakan, tsunami akibat longsoran di bawah laut tidak sulit untuk mendapatkan peringatan dini. Perlu peta batimetri atau peta kedalaman laut yang detail untuk bisa melihat adanya longsoran bawah laut. Selain itu, saat ini tidak ada alat pemantau longsoran bawah laut.Â
"Kalau kita lihat longsoran di bawah laut, tidak seperti di permukaan. Kalau di permukaan barangkali siang ini masih bergerak, di bawah (laut) sana belum stabil atau menuju stabil. Ini seperti gempa, itu seperti ada pendahuluannya," ujarnya.Â
Dia menuturkan, longsoran di bawah permukaan atau di atas permukaan dapat dipicu oleh getaran gempa tektonik, maupun gempa vulkanik.
Buoy
Namun, memang disayangkan kembali perihal sistem peringatan dini di Indonesia yang masih minim. BMKG karena itu tak mampu memberi peringatan dini tsunami yang dibangkitkan karena gunung api. Komponen sistem yang dimiliki saat ini hanya peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi.
"Pengalaman yang saat ini harusnya bisa menjadi bagian untuk penyempurnaan sistem peringatan dini walaupun butuh waktu," kata Abdul Muhari.
Di negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan lainnya, jelas memiliki alat canggih yang dapat mendeteksi tsunami.Â
Menurut pria yang disapa Aam ini, sebagaimana disampaikan Sutopo, Indonesia juga pernah memiliki alat deteksi yang disebut buoy pada 2011.
"Enggak sampai dua tahun buoy kita sudah di-vandalisme. Ada bagian yang diambil sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya," ujarnya.
![]()
Alat tersebut padahal bisa mendeteksi jika diketahui adanya gelombang yang tidak biasa, kendatipun tidak terjadi gempa bumi. Oleh karena itu alat peringatan dini tersebut seharusnya dimiliki Indonesia yang bisa diletakkan di laut baik bagian permukaan maupun dasarnya. Â
Aam juga mengatakan bahwa potensi tsunami susulan cenderung masih ada.Â
"Kami belum punya gambaran, daripada salah karena keterbatasan data saat ini, saya cenderung mengatakan potensi tsunami masih ada. Sampai ada data yang bisa memastikan periode letusan gunung berkurang," kata dia lagi.
Luruhan Kolaps
Di tempat berbeda, saat menyampaikan konferensi pers, Kepala BMKG Dwikorita akhirnya memastikan bahwa luruhan maupun kepundan yang kolaps dari Gunung Anak Krakatau adalah penyebab tsunami Selat Sunda.