Jangan Sampai Main-main sama Bencana
- VIVA/Muhamad Solihin
Luruhan itu yang menyebabkan terjadi longsor bawah tanah laut. Luruhan dari lereng gunung yang hilang dan ternyata cukup luas diduga longsor dalam waktu yang cukup cepat.
“Ada 64 hektare lereng gunung yang hilang, tentunya membuat guncangan,” kata Dwikorita di kantor BMKG, Jakarta, Senin 24 Desember 2018.
Tremor atau getaran disebut memiliki magnitude 3,4 dengan episentrum di Gunung Anak Krakatau. Materi kolaps ini menyebabkan guncangan lalu longsoran.
![]()
“Ini yang menjadi tsunami di pantai pada pukul 21.27 atau 24 menit kemudian (setelah erupsi) dengan tinggi 0,9 meter di empat titik di Banten, Serang, Bandar Lampung,” ujarnya.
Hasil kausal erupsi gunung Anak Krakatau dengan tsunami Banten akhirnya bisa disampaikan BMKG setelah instansi tersebut mengaku melakukan analisis dengan lembaga-lembaga lain.
Jangan Tunggu
Pada Senin kemarin, saat memantau lokasi bencana di Banten, Presiden Joko Widodo menjawab soal ketiadaan alat deteksi tsunami di Indonesia. Sejurus, Jokowi meminta pengadaannya dilakukan dalam waktu segera.
“Saya perintahkan BMKG untuk membeli alat-alat deteksi early warning system yang bisa memberikan peringatan-peringatan dini kepada kita semua, kepada masyarakat,” kata Jokowi di Pantai Carita, Pandeglang, Banten.
![]()
Catatan tahun ini, sudah dua kali Indonesia diterjang tsunami. Lebih awal, tsunami pascagempa bumi menerjang Palu dan Donggala yang menyebabkan sedikitnya 1.946 orang tewas.
Sementara itu, tsunami Banten sudah memakan korban jiwa hingga 281 orang pada hari ketiga pascabencana. Tak main-main, besarnya kerugian jiwa dan materi akibat bencana tersebut tak pantas dipandang sebelah mata.
“Supaya masyarakat bisa menghindar,” kata Jokowi lagi soal urgensi pengadaan alat buoy itu. (art)