KPK Kembali Diteror
- VIVA/M Edwin Firdaus
Sementara itu, terang Febri, unsur pimpinan tetap hadir di kantor dan mengerjakan tugasnya masing-masing. Penyidik dan pegawai KPK lainnya, melaksanakan tugas penindakan dan pencegahan korupsi. Pemeriksaan dalam berbagai kasus, saksi ataupun tersangka juga dilaksanakan sesuai dengan jadwal dan perencanaan.
"Yang agak berbeda, hal ini tentu ada koordinasi yang kami lakukan dengan pihak Polri, terkait dengan peristiwa tadi pagi. Pimpinan dan tim yang ditugaskan, juga sudah ke lokasi untuk melakukan koordinasi tersebut," ujarnya.
Febri tak menampik dengan terjadinya teror bom ini, KPK bakal menerapkan pengamanan maksimal bagi pimpinan KPK. Menurutnya, standar keamanan jika ada peristiwa tertentu akan dibahas melalui mekanisme mitigasi risiko keamanan, untuk dipetakan risikonya dan jika dibutuhkan melakukan beberapa penguatan-penguatan aspek keamanan.
"Tapi yang pasti, untuk pengamanan koordinasi, tentu dilakukan juga dengan Polri, kalau dibutuhkan pengamanan tambahan misalnya. Untuk para pimpinan KPK yang lima orang atau pengamanan yang lain, sesuai dengan kebutuhan tersebut," terang Febri.
Sementara itu, terkait motif dari teror yang terjadi, Febri enggan berspekulasi apakah itu terkait dengan penanganan perkara di KPK. Kata Febri, kasus teror ini termasuk apa motifnya, masih didalami Polri. "Jadi, lebih baik kita tunggu penegak hukum bekerja terlebih dahulu, agar informasinya bisa lebih mempunyai dasar dan lebih substansial prosesnya," ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Harahap mengecam dan mengutuk keras upaya teror terhadap dua pimpinannya. Ia menyebut, teror terhadap pimpinan KPK ini semakin membuktikan bahwa upaya teror terhadap pemberantasan korupsi terus berlangsung dan tidak pernah berhenti.
Diketahui saat ini, KPK sedang giat-giatnya memberantas korupsi, sebagaimana pada 2018 lalu dengan mencetak sejarah 30 operasi tangkap tangan (OTT) dan tahun ini menargetkan 200 perkara. Tetapi, upaya pemberantasan korupsi kembali diuji.
"Kami meyakini, tindakan teror ini merupakan upaya untuk menimbulkan rasa takut dan gentar di hati pimpinan dan pegawai KPK, agar berhenti menangkapi koruptor dan menciptakan Indonesia bersih," kata Yudi dalam keterangan persnya, Rabu.
Padahal, sambung Yudi, belum hilang dari ingatan publik mengenai kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan yang sampai saat ini belum terungkap. Meski begitu, dia menekankan bahwa teror-teror kepada pimpinan dan pegawai KPK tidak akan pernah menciutkan nyali pihaknya dalam memberantas korupsi di negeri ini.