KPK Kembali Diteror

Pelemparan bom molotov di rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif.
Sumber :
  • VIVA/M Edwin Firdaus

"Justru, ini makin memperteguh semangat kami bahwa korupsi harus dibasmi apapun risikonya, tentu dengan dukungan rakyat Indonesia," kata Yudi.

img_title Siswa Pelempar Molotov di Kalbar Bergabung dalam Komunitas True Crime Community

Selanjutnya, efek domino Novel

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Efek Domino Novel

img_title Rekaman Detik-detik Rumah Konten Kreator DJ Donny Dilempari Bom Molotov oleh Dua Orang Pria Tak Dikenal

Teror bom yang menimpa dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai, sebagai upaya teror lanjutan yang kian masif dan terstruktur. Sebab, teror yang dialami dua pimpinan KPK ini bukan kali pertama terjadi. Banyak teror lainnya yang dialami pimpinan dan pegawai KPK sebelumnya, yang belum terungkap siapa pelakunya.

Mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto mengatakan, upaya teror terhadap KPK sudah lama terjadi. Bahkan, sebelum KPK berdiri, penegak hukum yang berkutat pada isu pemberantasan korupsi rentan terhadap upaya-upaya teror.

img_title Meskipun Batang Kayu, Polisi Bakal Buru Pelaku Teror di Dekat Gereja Kota Bandung

"Jangan berharap teror berhenti, yang ada adalah harus siap menghadapi teror itu," kata pria yang akrab disapa BW ini kepada tvOne, Rabu 9 Januari 2019.

BW berharap, peristiwa ini jangan sampai menyurutkan semangat pimpinan KPK yang menjadi sasaran teror. Menurutnya, pimpinan dan seluruh pegawai KPK harus terus mengonsolidasikan diri dan meneguhkan tekad melawan teror ini.

"Kalau pimpinan KPK yang diteror surut langkahnya, maka teror itu berhasil 'menjinakkan' KPK. Tetapi, apabila seluruh SDM (sumber daya manusia) di KPK konsolidasi untuk menegakkan tekadnya, teror itu tidak berhasil," ujarnya.

Terlepas dari teror yang menimpa pimpinan KPK, BW menyebut ada keunikan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Di mana, 'serangan balik' berupa teror kepada orang-orang yang ingin menegakkan aturan melalui upaya pemberantasan korupsi semakin terang-terangan dan nyata.

"Perlu mitigasi risiko dan konsolidasi SDM di KPK. Novel itu bagian dari teror, kriminalisasi pimpinan KPK itu juga teror, belum lagi ancaman fisik. Hampir, semua insan KPK yang terkait pendekatan impresif itu banyak diteror," tegasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terpisah, Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), Adnan Topan Husodo menyebut, teror terhadap dua pimpinan KPK merupakan efek domino dari peristiwa sebelumnya. Adnan menduga, aksi teror ini terinspirasi dari teror sebelumnya yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan pada 27 April 2017 silam.

"Teror terhadap pimpinan KPK, merupakan tindakan berani, yang mungkin terinspirasi dari teror-teror sebelumnya yang berhasil, seperti yang dialami Novel Baswedan, mengingat penegak hukum belum dapat mengungkap pelakunya hingga hari ini," kata Adnan di Jakarta, Rabu 9 Januari 2019.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut