Dirundung Gempa Bumi Beruntun, Ada Apa?

Petugas membersihkan puing-puing bangunan gapura gerbang masuk kawasan The Nusa Dua yang runtuh akibat gempa di Badung, Bali, Selasa (16/7/2019).
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Hingga pukul 10 pagi itu, setidaknya tercatat ada sembilan gempa susulan, dan menjawab kekhawatiran masyarakat setiap terjadi gempa bumi. BMKG juga menyertakan pengumuman tidak berpotensi tsunami. 

img_title 5 Fakta Dentuman Misterius di Bandung, Mungkinkah Fenomena Skyquake?

Gempa Beruntun Belakangan Ini

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika Anda berlangganan notifikasi berita dari VIVA, tentu Anda memerhatikan dalam beberapa hari terakhir push notif (push notification) atau pesan pemberitahuan yang masuk ke ponsel Anda adalah seputar kejadian gempa. (Jika belum berlangganan push notif, Anda hanya tinggal mengklik kotak dialog yang muncul saat mengakses laman VIVA, dan ini gratis).

img_title BMKG Ungkap Dentuman di Bandung Tak Berkaitan dengan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasannya

Sebelum gempa Bali kemarin, gempa dengan intensitas lebih besar, yakni magnitudo 7,2 telah lebih dulu mengguncang Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada 14 Juli 2019. Tak seperti di Bali yang mengalami kerusakan ringan pada sejumlah rumah, sekolah, dan tempat ibadah, gempa Halmahera hingga saat ini setidaknya menelan korban tiga orang meninggal, 971 rumah rusak berat, dan ribuan orang mengungsi. 

Daryono mengumumkan di akun Facebook-nya, gempa Halmahera yang terjadi pada pukul 16:10:51 WIB itu terjadi dengan episenter terletak pada koordinat 0,56 LS dan 128,06 BT pada kedalaman 10 km.

img_title BMKG Deteksi Lonjakan 2.671 Titik Panas Sumatera, Sumsel Terbanyak

Catatan gempa Halmahera

"Secara tektonik wilayah Halmahera Selatan termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks. Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat," terang Daryono di akun Facebook.

"Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. Adapun ketiga sistem sesar: Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan merupakan “percabangan” atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aktivitas gempa susulan pun terjadi di Halmahera. Setidaknya pada 16 Juli 2019 pukul 08:00 WIT, telah terjadi 93 gempa susulan, dengan magnitudo terkecil M=3,1 dan terbesar M=5,8.

Selain itu, lebih awal lagi pada Minggu, 7 Juli 2019, Ternate Maluku Utara juga diguncang gempa M=7 yang BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami namun kemudian dicabut pada Senin dini hari. Atau jika dirunut lagi, catatan gempa di wilayah Nusantara ini akan lebih panjang, baik yang skala kecil maupun besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut