Anak Pelajar Jadi Demonstran
- VIVA/M Ali Wafa
Mereka kedapatan sedang jalan bergerombol dan ada pula yang telah menumpangi truk maupun angkutan kota, serta mobil bak terbuka. “Kita mau nuntut keadilan di sana (DPR),” teriak salah seorang pelajar yang enggan menyebutkan namanya
Usai dihalau aparat, para pelajar ini digiring ke Markas Polresta Depok. Di hadapan petugas, mereka mengaku nekat bolos sekolah, karena ingin melakukan aksi unjuk rasa. Informasi demo lanjutan yang bakal diikuti pelajar ini, tersebar masif melalui pesan berantai WhastApp (WA). Ajakan itu membuat puluhan pelajar Depok terpancing. “Saya kepingin sendiri,” ujar seorang pelajar yang tak bersedia disebut identitasnya.
Sedangkan di Bali, puluhan anak sekolah yang sudah siap ikut aksi #BaliTidakDiam dibujuk untuk kembali ke rumah. "Pulang ke rumah. Kalau sudah tidak ada pelajaran, pulang sekarang," kata seorang petugas Kepolisian, sembari menggiring sekitar delapan siswa ke motornya, Senin 30 September 2019. Sebagian siswa menurut, sebagian lagi tetap dalam barisan.
Di Yogyakarta, ratusan pelajar ikut bergabung dalam acara #GejayanMemanggil 2. Humas Aliansi Rakyat Bersatu yang menjadi inisiator #GejayanMemanggil 2, Nailendra menyebut para pelajar bergabung murni karena panggilan hati nurani. Para pelajar pun akhirnya ikut bergabung di #GejayanMemanggil 2.
"Kami tidak mengajak mereka (pelajar), tetapi mereka turun, karena murni hati nurani. Mereka memang ingin turun ke jalan dan bergabung dengan kami," ujar Nailendra.
Ragam Motivasi Ikut Aksi
Tak semua pelajar yang berniat ikut aksi paham isu yang diusung. Sebagian hanya dengar-dengar, sebagian lagi paham sedikit. Namun, mereka mencoba memahami, ada hal yang tak beres, sehingga kakak-kakak mahasiswa turun kembali ke jalanan.
Berbekal pengetahuan itu, mereka ambil bagian. Sebagian dari mereka mengaku hanya ikut-ikutan, namun beberapa pelajar lainnya mengaku tergerak, karena melihat perjuangan para mahasiswa menuntut pembatalan revisi sejumlah undang-undang.
Meski tidak tahu secara detail apa saja pembahasan yang menimbulkan polemik, namun mereka meyakini hal tersebut merugikan rakyat. Ketika diwawancara VIVAnews, Senin 30 September 2019, jawaban mereka bervariasi.
“Misalnya punya keluarga dokter atau bidan, terus tengah malam ada yang mau melahirkan. Masa bayinya harus dimasukin lagi, nunggu besok? Kan enggak masuk akal. Kalau gitu, sekalian aja melahirkannya suruh ke DPR, kan mereka yang buat undang-undang,” kata salah satu pelajar SMP, saat diamankan di Polresta Depok