Anak Pelajar Jadi Demonstran
- VIVA/M Ali Wafa
Menurutnya, itu adalah fenomena menarik, karena semenjak reformasi bergulir baru kali ini pelajar terlibat dalam parlemen jalanan.
Selain itu, lanjutnya, tentu ada faktor lain, yaitu terkait simpati mereka terhadap perjuangan mahasiswa. Kemudian, ada rasa ketidaksukaan yang besar terhadap Kepolisian.
"Apalagi mereka kebanyakan pelajar Jabotabek, yang mungkin kerap memiliki singgungan dengan Kepolisian, baik di jalan ataupun terkait dengan kegiatan komunitas mereka," katanya.
"Ekspresi itu terlihat jelas dengan mereka menumpang truk terbuka dan dari jargon-jargon yang mereka sampaikan. Kalau detail isu RUU KPK, KUHP, dan lain-lain, saya rasa tidak begitu menjadi faktor utama," tambahnya.
Mengenai faktor 'eksistensi' atau 'hasrat menyalurkan kenakalan remaja,' Yudo mengakui, poin pertama memang ada. Karena, namanya anak muda secara psikologis ada fase mereka butuh eksistensi.
"Jadi, selain faktor sosial politik juga ada kaitan dengan faktor psikologis," katanya.
Yudo tidak setuju, jika disebut kenakalan remaja. Karena, memang fase psikologis masa remaja adalah masa pencairan identitas dan perubahan psikologis akibat perubahan hormonal. "Dikenal juga masa pubertas," tuturnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy keberatan dengan aksi yang dilakukan pelajar. Ia meminta, para siswa untuk menjaga diri tidak terlibat dalam aksi-aksi unjuk rasa.
Ia juga mengimbau, agar jajaran pendidik dan orangtua ikut memantau. Muhadjir meminta, agar orang dewasa di sekitar pelajar, bisa ikut melindungi anak-anak dari berbagai macam tindakan kekerasan, atau dari lingkungan yang bisa mengancam jiwa mereka.Â
Muhadjir juga meminta, agar pemerintah daerah baik gubernur, bupati hingga wali kota dan kepala dinas, untuk aktif ikut memberikan pengawasan. "Juga untuk bisa memastikan bahwa para peserta didik para siswa di lingkungan wilayah masing-masing aman tidak terpengaruh oleh kegiatan-kegiatan baik berupa unjuk rasa, demonstrasi, ataupun sejenisnya," katanya, Kamis pekan lalu.Â
Kepala Sekolah dan guru-guru, diharapkan bisa menjaga siswa mereka. Sedangkan untuk  siswa, Muhadjir meminta, agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi, dan tak mudah percaya dengan berita dan kabar yang tak bertanggung jawab.