Ancaman Resesi Efek Corona Disiasati Hari Libur
- ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/nz/18
Wabah corona yang belum diketahui sampai kapan meredanya, ditambah sejumlah gelembung masalah ekonomi, akan membuat Indonesia berpotensi mengalami krisis pada kuartal kedua 2020. Situasi terburuknya adalah ekonomi Indonesia hanya tumbuh 3 persen.
Pemerintah Indonesia menyiasatinya dengan memperbanyak hari libur. Ringkasnya, pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan hari-hari libur itu untuk berwisata dan berbelanja, misalnya, ketika mudik Lebaran nanti, sehingga perekonomian menjadi tak lesu-lesu amat meski ada wabah corona. Industri kreatif seperti kuliner dan sejenisnya diyakini akan bergeliat.
Seperti yang disampaikan Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, seusai rapat dengan menteri Muhadjir dan dua menteri lainnya di Jakarta, pemerintah menetapkan dua puluh empat hari libur/cuti bersama itu berkaca pada tahun 2018. “Ternyata,” katanya, “pertumbuhan ekonomi tahun 2018 itu lebih baik karena, kalau dilihat liburnya, lebih lama satu hari”.
Ida mengklaim, keputusan itu juga sudah dikoordinasikan dengan para pengusaha, terutama dengan Kamar Dagang dan Industri dan Asosiasi Pengusaha Indonesia. Mereka, katanya, meyakini penambahan empat hari libur itu tidak akan menurunkan produktivitas. Malahan, dia berdalih, para pekerja akan meningkat produktivitasnya kalau habis berlibur karena ada semangat baru.
Kebijakan Aneh
Sayangnya tak semua setuju dengan resep memperbanyak hari libur itu. Bhima Yudhistira Adhinegara, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), berpendapat bahwa belum tentu pertumbuhan ekonomi bakal otomatis naik seiring penambahan hari libur atau cuti bersama.
Kalau yang diharapkan salah satunya di bidang pariwisata, misalnya, menurut Bhima, sektor itu justru sekarang satu di antara yang paling terdampak wabah corona. Sebab, orang berpikir dua kali untuk berlibur di tengah ancaman wabah corona di mana-mana. Lagi pula, tak ada yang tahu kapan wabah itu bakal mereda, tidak hanya di Indonesia melainkan seluruh dunia.
“Cukup aneh kalau ada dampak libur yang signifikan ke ekonomi,” katanya mengkritik. “Yang terjadi justru masyarakat lebih banyak berdiam di rumah. Terlebih daya beli masyarakat sedang lesu. Mungkin kalau berdampak ke pesanan antar makanan yang naik”.