Menghitung Mundur Ledakan Corona
VIVA – Pernyataan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio tentang perkiraan jumlah orang yang terinfeksi virus corona di Indonesia membikin ngeri. Angkanya tidak tanggung-tanggung: 2.000 orang, bahkan bisa lebih, dalam dua pekan mendatang.
Jumlah itu bukan prediksi asal-asalan. Kalau dihitung sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret, jumlahnya terus meningkat dari hari ke hari. Awalnya dua, bertambah menjadi belasan, lalu puluhan, dan sekarang (data 20 Maret 2020) sudah 369 orang terjangkit—lonjakan berlipat-lipat hanya dalam sembilan belas hari.
Masa penjangkitan di Indonesia masih fase awal. Itu kabar buruknya. Sebab, fase awal cepat atau lambat akan segera terlewati dan pasti mencapai tahap puncak. Pada dua pekan mendatang itulah, pertengahan April, menurut perkiraaan Subandrio, puncak penjangkitan corona di Indonesia, sehingga bukan mustahil angkanya meledak mencapai lebih dari 2.000 kasus.
Hanya kalau disiplin
Besarnya angka prediksi itu, berdasarkan analisis Subandrio, tak terhindarkan melihat betapa masif tingkat dan wilayah persebaran. Mulanya dideteksi di Jakarta—meski yang pertama terjangkit warga Depok—lalu menjalar ke kota-kota lain di Jawa Barat, meluas hingga Banten, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Lampung, Riau, Kalimantan Timur, Bali, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Barat.
Kabar baik yang bisa diharapkan dari keniscayaan bahwa corona akan memuncak pada waktunya adalah mengupayakan puncaknya tak terlalu cepat dan grafiknya tak tinggi-tinggi amat. Ringkasnya, semacam memperlambat fase puncaknya dan diharapkan melandai, tak sampai klimaks mengerikan seperti di Italia dan Iran yang melesat hingga belasan-puluhan ribu dalam dua pekan saja.
Tetapi, hasil yang diharapkan itu tidak akan didapat dengan mudah. Subandrio mewanti-wanti, harus ada kesigapan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat untuk menerapkan secara ketat protokol-protokol kesehatan. Pemerintah mesti menggencarkan pelacakan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan pasien positif terinfeksi, pemeriksaan secara cepat dan massal kepada mereka yang dicurigai terjangkit, dan mengedukasi masyarakat agar membatasi interaksi.
Masyarakat juga harus disiplin untuk mencegah penularan, di antaranya membatasi interaksi sosial dan meningkatkan daya tahan tubuh tiap-tiap orang sehingga terbentuk kekebalan komunitas. “Virus secara bertahap bisa dihambat oleh kekebalan: makin sedikit orang yang tertular, makin sedikit orang bisa menularkan ke orang lain,” katanya, menjelaskan secara sederhana efektivitas perlawanan terhadap wabah itu.