Golkar Tantang Demokrat Buka 'Mr. A'

Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan
Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan
Sumber :
  • Facebook Ramadhan Pohan

VIVAnews - Kisruh kasus Muhammad Nazaruddin terus berkembang. Partai Demokrat menuding ada pihak-pihak tertentu yang ikut memanas-manasi kasus ini. Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, bahkan tiba-tiba mengejutkan publik dengan menebar teka-teki: dalang yang mencoba bermain di air keruh itu adalah Mr. A. Tujuannya menghancurkan partainya.

Belum jelas siapa yang dimaksud, pernyataan Pohan itu membuat sebagian kalangan menuding ke arah petinggi Partai Golkar, di antaranya kepada Ketua Dewan Pertimbangan Akbar Tandjung, Ketua Umum Aburizal Bakrie, dan Wakil Ketua Umum Agung Laksono. Gilirang elite Partai Golkar yang meradang. Mereka menuding ini semata permainan Partai Demokrat untuk menggeser isu yang tengah menjepit mereka.

"Selama ini Partai Demokrat hanya menyebut inisial Mr. A, kita akan menunggu saja. Untuk apa kegelapan komunikasi politik PD kita tanggapi dengan serius?" kata Indra J. Piliang, salah satu tokoh muda Partai Golkar, Jumat, 3 Juni 2011.

Indra bahkan menantang Partai Demokrat untuk membuka saja identitas Mr. A itu. "Harapan kita, PD menyebut nama dengan jelas, seperti gentleman, dengan berani," katanya. "Partai berkuasa kok bermain dengan ketidakjelasan seperti ini? Mereka akan terkena dampak luas, kalau tidak berhasil membuktikan tuduhannya. Demokrasi tak butuh model komunikasi remang-remang seperti yang diperagakan PD sekarang."

Indra mengaku pihaknya langsung menginvestigasi soal Mr. A itu. Hasilnya, sosok misterius itu disimpulkan bukan Akbar atau pun Aburizal. Dia mengungkapkan, Mr. A yang dimaksud bukanlah kader Beringin. 

"Saya sudah melakukan investigasi, Mr A itu sama sekali bukan Akbar Tandjung atau Aburizal Bakrie. Kedua sosok penting di Golkar ini mustahil melakukan cara-cara yang ajaib dalam politik," ujarnya.

Soal siapa Mr. A yang dihembuskan Ramadhan tersebut, Indra menyatakan, dari hasil penelusurannya, nama yang dimaksud kemungkinan merujuk pada anggota partai lain. Ciri-cirinya, dia seorang prefisonal, dan memiliki perangkat khusus untuk mengirim SMS berantai.

"Mr. A itu berasal dari partai lain, seorang profesional yang selama ini memiliki peralatan untuk mengirimkan pesan berantai lewat SMS," kata Indra.

Siapa persisnya?

"Ada, deh. Biar Ramadhan Pohan yang menjelaskan," kata Indra. Yang jelas, Indra menegaskan, dia sekarang sudah tahu siapa Mr. A yang dimaksud.

Meski tak menyebut nama, Indra memberikan sejumlah petunjuk lain. Pertama, kata dia, "Sosok itu berasal dari partai di luar koalisi." Partai dimaksud pernah muncul dalam isu reshuffle kabinet. "Kalaupun mereka melakukan serangan terhadap Partai Demokrat, barangkali karena mereka kecewa saja dengan deal-deal politik yang tak dipenuhi."

Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie, ikut angkat bicara mengenai isu Mr. A. Ical mengaku tidak terlalu mengikuti isu ini. Menurut dia, soal ini hanyalah gosip.


"Mr. A itu gosip, sehingga tidak perlu ditanggapi," ujar Aburizal di sela-sela kegiatan Jambore Nasional Siaga Karya yang diselenggarakan Angkatan Muda Partai Golkar di Bumi Perkemahan Cibubur, Bogor, Jawa Barat. "Saya nggak tahu maksudnya siapa: (orang) Partai Demokrat sendiri atau di luar Partai Demokrat. Itu belum jelas."

Tak ksatria

Saat mengungkap keterlibatan Mr. A, Ramadhan mengaku gerah dengan ulah politikus tertentu yang menurut dia telah mengobok-obok partainya. "Saya tidak mau menyebutkan namanya. Yang pasti sudah terlihat jelas. Caranya sangat jelas, dia tidak hanya bicara, tapi action juga," kata Ramadhan.

Ramadhan menambahkan, politikus itu mencoba mengkerdilkan Partai Demokrat menjelang Pemilu 2014. "Yang dipakai caranya tidak ksatria," tegas Ramadhan.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, menggelar konperensi pers khusus. Dia menyesalkan manuver sejumlah pihak yang telah menyebarkan fitnah tentang dirinya dan partainya. "Saya tahu dalam keadaan seperti ini selalu ada penumpang gelap. Ini sering menimbulkan komplikasi masalah," ujarnya.

SBY mengharapkan agar penyebaran fitnah itu dihentikan. "Janganlah negeri ini jadi tanah dan lautan fitnah." (eh)