Menunggu Nakhoda Golkar yang Baru
- ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Wacana pemilihan terbuka sontak mengundang reaksi penolakan dari sejumlah bakal caketum. "Tidak mungkin itu, kalau terbuka berarti musyawarah mufakat, bukan demokrasi," kata bakal caketum Aziz Syamsuddin.
Segendang sepenarian. Bakal caketum lainnya, Mahyudin juga tak sependapat dengan wacana itu. Dia khawatir jika sistem terbuka akan berdampak negatif. "Ini bisa timbulkan potensi perpecahan. Saya menolak aklamasi," ujarnya.
Hal senada disampaikan bakal caketum  Priyo Budi Santoso. Menurutnya, dengan voting terbuka,  kerahasiaan pilihan tak akan terjaga. "Jadi pemilihan harus tertutup, enggak ada terbuka. Voting terbuka sangat rawan terhadap intimidasi," kata Priyo.
Bukan hanya itu dampaknya. Menurut mantan Wakil Ketua DPR ini, pemilihan terbuka bisa menimbulkan implikasi yang bakal panjang pada kemudian hari.
Wacana pemilihan terbuka tak sampai berlarut. Usulan dari tujuh bakal caketum untuk tidak menggelar pemilihan secara terbuka telah diamini Ketua Steering Committee (SC) Munaslub Partai Golkar Nurdin Halid.
Namun Nurdin menampik bila ada istilah pemilihan terbuka dan tertutup dalam tata tertib dan Anggaran Dasar (AD)/Anggaran Rumah Tangga (ART) Partai Golkar. "Kita tidak mengenal yang namanya tertutup, terbuka. Yang kita kenal itu adalah pemilihan ketua umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, dan rahasia. Kalimatnya begitu," kata Nurdin, Minggu, 15 Mei 2016.
Setelah menyepakati pemilihan secara rahasia, panitia akan melakukan rapat lanjutan untuk membahas tiga skenario pemilihan ketua. Skenario yang disiapkan SC, yaitu pertama bila satu kandidat memperoleh dukungan di atas 30 persen dan kandidat lain tidak memenuhi, kandidat tersebut secara aklamasi menjadi ketua umum.
Rancangan kedua yaitu bila ada dua kandidat yang mendapat dukungan 30 persen atau lebih maka akan dilakukan putaran kedua.
Skema ketiga adalah bila tidak ada kandidat yang mendapat dukungan 30 persen, panitia akan mengambil urutan 1,2 dan 3 berdasarkan perolehan suara. Kemudian dilakukan putaran kedua.
Selanjutnya…Pesan bagi Pemimpin Baru…
Jika semua proses berjalan lancar, Partai Golkar memiliki pemimpin baru, Senin, 16 Mei 2016. "Kepada yang menang saya dukung. Saya harap yang menang mau merangkul. Mereka saling dukung. Yang menang didukung, yang kalah diajak," ujar Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB) saat membuka Munaslub.