Full Day School, Bumerang Menteri Pendidikan Baru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Sumber :
  • VIVA/Lucky Aditya

VIVA.co.id - Muhadjir Effendy belum sebulan dilantik jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggantikan Anies Baswedan. Tapi, gagasannya langsung menuai polemik hebat di tengah masyarakat.

Idenya menelurkan full day school atau sekolah sepanjang hari, langsung mendapat respons berbagai kalangan. Kebanyakan menentang hingga memunculkan petisi penolakan lewat Change.org yang sudah didukung 27 ribu orang. Belakangan ia membatalkan sendiri gagasannya itu. Alasannya,  full day school baru sekadar rencana.

img_title KPAI Beberkan Alasan Bahayanya Anak Terlalu Lama di Sekolah

"Wong ini baru ide. Ada proses nanti. Tapi intinya ini baru ide. Saya terima kasih atas respons masyarakat. Dan kami akan susun yang lebih menyeluruh, lebih utuh, dan nanti akan saya sampaikan lagi ke masyarakat, biar ada uji," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sayang rencana itu sudah terlanjur bergulir. Para penentang berpendapat, sekolah sepanjang hari bagi siswa di Tanah Air dinilai tidak tepat. Banyak faktor. Seperti, fasilitas sekolah yang tidak mendukung, tenaga pendidik yang terbatas, sampai biaya yang dikeluarkan orangtua bakal bertambah. 
img_title Guru Jakarta Tak Permasalahkan Kebijakan 5 Hari Sekolah

Paling krusial, psikologi anak. Mereka dinilai akan jenuh bersekolah sepanjang hari. Padahal, anak butuh interaksi dan bersosialisasi bersama teman sebayanya di lingkungan rumah. Juga bercengkerama dengan orangtua. 

Sebelum menjabarkan pendapat banyak kalangan dan analisisnya, kiranya kita perlu mengetahui dulu alasan Menteri Muhadjir Effendy mengeluarkan ide full day school untuk anak Indonesia.

[Baca: Ini Sosok Muhadjir Effendy, Pengganti Anies Baswedan]

"Jadi FDS (full day school) itu waktu sehari penuh. Kan nanti bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program Nawacita dari Beliau (Joko Widodo), yang mana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowladge base-nya," ujar Muhadjir, Senin, 8 Agustus 2016.

Sistem ini, menurut Muhadjir, cocok karena bisa mengurangi kesempatan anak mendapatkan pengaruh negatif di lingkungan, saat mereka tidak dalam pengawasan orangtua sepulang sekolah. Terutama di masyarakat perkotaan.

"Kalau nanti pulang jam 5 (sore), kalau masyarakat kota kan umumnya pulang jam 5, nanti bisa jemput anaknya-lah pulang bersama," kata Muhadjir.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu membandingkan dengan kondisi saat ini. Ketika waktu pulang kerja kantor sekitar pukul 17.00 WIB, sementara sekolah sudah membubarkan diri pukul 13.00 WIB.

Antara pukul 13.00 hingga pukul 17.00, kata Muhadjir, anak tidak ada yang bertanggung jawab, karena sekolah juga sudah melepas. Sementara keluarga juga belum ada.

"Justru ini yang saya duga terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh remaja," kata Muhadjir.

Oleh karena itu, selama celah waktu itu, perlu diisi dengan berbagai hal positif. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi itu.

"Untuk menyempitkan ruangan kosong ini, maka kita lakukan dengan waktu sekolah diperpanjang, disesuaikan dengan jam kerja orangtuanya," kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan, konsep full day school ini juga tidak dihabiskan hanya belajar di dalam kelas. Anak-anak bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan di luar kelas.

Misalnya, bagi yang ingin meningkatkan pendidikan agamanya, seperti mengaji, pihak sekolah bisa menyiapkan Ustaz. Bagi yang ingin melancarkan bahasa asing, sekolah juga bisa menggunakan tenaga pengajar bahasa.

"Karena secara psikologis, kita tahu psikologis daya tahan anak tahannya hanya berapa jam, tidak mungkin (di kelas terus). Tapi di luar nanti mereka bisa bergembira, belajar berbagai macam hal di situ kan. Kami ingin menciptakan sekolah yang menggembirakan," kata Muhadjir.

[Baca: Mendikbud Anteng Kena 'Bully' Soal Full Day School]

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut