Full Day School, Bumerang Menteri Pendidikan Baru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Sumber :
  • VIVA/Lucky Aditya

Orangtua keberatan

Kebijakan sekolah sepanjang hari dinilai akan memberatkan anak dan orangtua. Yulin Anthoni, warga Kelurahan Singkil II, Kecamatan Singkil, Manado, mengaku khawatir dengan anaknya jika gagasan Sang Menteri diimplementasikan.

"Jika sejak pagi hingga jam lima sore terus belajar, dikhawatirkan anak akan kelelahan. Kemudian pada malam harinya tak lagi bisa belajar karena memilih tidur," kata Yulin.

Belum lagi diskusi antar orangtua dengan anak akan hilang. "Karena si anak sudah merasa capek seharian belajar di sekolah," kata ibu yang anaknya masih duduk di kelas 2 SD ini.

Warga Manado lainnya, Recky Wusyang, mengatakan anaknya yang duduk di bangku SD masih butuh banyak bertemu dengan orangtua.

"Bayangkan saja kalau seharian di sekolah, mana saya bisa bertemu dengan anak. Apalagi saya pulang kantor sudah malam," ujar Recky.

Selain itu, menurut Recky, full day school akan membuat orangtua harus mengeluarkan uang saku lebih banyak untuk makan siang dan camilan sore hari anak-anak. Sementara kondisi finansial orangtua tidak semua sama.

"Sedangkan saya kerjanya pas-pasan, bisa-bisa anak saya tidak sekolah kalau keluar duit banyak," kata Recky.

Tak cuma ramai dibincangkan di tengah masyarakat. Di sosial media, gagasan Mendikbud juga menjadi topik bahasan. Bahkan sempat menjadi trending topic pengguna Twitter di Indonesia.

Umumnya, para netizen keberatan dengan ide Sang Menteri. Alasannya beragam. Namun secara umum, mereka menilai kebijakan ini hanya akan menambah beban siswa.

"Seharian penuh di sekolah itu terlalu memaksakan. Anak-anak juga butuh kehidupan bersosial dengan lingkungan sekitar rumah," ucap Erlan Sutrisna dengan akun @Rrrlann, Selasa, 9 Agustus 2016.

Emzy Ardiwinata yang menggunakan akun @emzydinata memberikan contoh negara lain yang pendidikannya jauh lebih baik tanpa harus menghabiskan waktu di sekolah.

"Bisa contoh Finlandia. Belajar cuma 5 jam, enggak ada PR, tapi sukses punya sistem pendidikan (yang katanya) terbaik di dunia," ucap Emzy.

Akun @infojabar lebih kritis lagi. "Mending pikirin anak-anak yang pergi sekolah harus nyeberang sungai bergelantungan. Buat jembatan, bangun sekolahnya!" ucap

[Baca: Mayoritas Netizen Menolak Full Day School]

Fasilitas dan SDM tak mendukung

Gagasan Sang Menteri juga direspons Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ketua KPAI, Asrorun Ni'am Sholeh, menilai gagasan Menteri Muhadjir tidak tepat.

Asrorun menilai, kebijakan pendidikan, apalagi yang bersifat nasional, tidak bisa didasarkan pada pengalaman orang per orang. Pengambilan kebijakan nasional tidak boleh parsial.

Sehingga, apapun ide dan gagasan yang akan diimplementasikan menjadi kebijakan, harus benar-benar dikaji secara matang dan mendalam. "Tidak boleh hanya berdasar kepada pengalaman pribadi," kata Asrorun.

Asrorun menegaskan, kebijakan yang diambil pemerintah akan berdampak sangat luas bagi masyarakat. Karena itu, butuh kajian utuh dan mendalam.

Menurut Asrorun, masing-masing siswa memiliki kondisi yang berbeda-beda. Siswa yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan.

"Dengan kebijakan full day school, pasti intensitas pertemuan anak dan orangtua juga pasti akan berkurang. Apalagi, tidak semua orangtua bekerja keluar rumah. Ini akan berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak," kata Asrorun.

[Baca: KPAI: Full Day School Rugikan Anak]

Anggota Komisi X DPR, Reni Marlinawati, menilai wacana full day school harus dikaji dengan matang atas dampak yang akan muncul. Soal ini, Reni menyoroti masalah tenaga pendidiknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Kanwil Kementerian Agama di Yogya Tolak Full Day School
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut