Bebas dari Abu Sayyaf pada Hari Kemerdekaan RI

Muhammad Sofyan dikawal polisi Filipina setelah berhasil meloloskan diri dari Abu Sayyaf.
Sumber :
  • REUTERS/Stringer

Soal bentuk peningkatan kerja sama, Emil memaparkan bisa dilakukan beberapa bentuk. Pertama, misalnya TNI bisa masuk ke area angkatan bersenjata Filipina. Opsi peningkatan lainnya, bisa saja memungkinkan patroli bersama Filipina dan Malaysia di teritorial kedua negara tetangga tersebut.

img_title Kaleidoskop 2021: Lonjakan COVID-19, KRI Nanggala hingga Herry Cabul

Dia mengatakan opsi negosiasi perlu terus dilakukan pemerintah Indonesia. Sebab operasi militer tanpa negosiasi menurutnya langkah yang percuma. Jika saja operasi militer tetap dijalankan, tapi tak mengetahui detail kondisi sandera, maka bisa menjadi bumerang, sandera bisa dibunuh kelompok Abu Sayyaf.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Emil mengatakan operasi militer dan negosiasi dilakukan bersama dengan melibatkan milisi lokal di Filipina Selatan misalnya Moro National Liberation Front (MNLF).

img_title Ternyata TNI Ikut Terlibat Selamatkan 4 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

Langkah itu perlu dilakukan sebab, menurut Emil, saat ini kelompok Abu Sayyaf sudah lintas batas, tak hanya beroperasi di perairan Filipina Selatan saja.

"Mereka (Abu Sayyaf) sifatnya lintas batas sekarang, berani lintas teritorial. Misalnya di area Malaysia mereka menculik lalu di bawa ke Filipina Selatan. Di area ini (Filipina Selatan) juga penjagaan kurang," jelasnya.

img_title Anggota DPR Respons Penyelamatan 3 WNI yang Diculik Abu Sayyaf

Mengharap Duterte

Selain upaya diplomasi, Indonesia juga bisa berharap pada gebrakan dan ‘kegarangan’ dari Presiden Filipina, Rodrigo Roa Duterte.

Memang sejak dia dilantik jadi orang nomor satu Filipina, Duterte sudah memberikan sinyal ketegasan penegakan hukum. Bahkan tak tanggung, Duterte mengaku siap menghadapi langsung Abu Sayyaf.

Duterte memerintahkan kepada tiga matra di tubuh Angkatan Bersenjata Filipina, yakni AD, AL, dan AU, untuk menumpas habis kelompok militan Abu Sayyaf. Menurutnya, kawasan selatan yang mayoritas dihuni warga Muslim Filipina terancam dipengaruhi oleh paham ISIS apabila langkah tegas tidak cepat dilakukan.

"Hancurkan mereka. Itu adalah perintah!" tegas Duterte dalam pidatonya di Pangkalan Militer Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan, 11 Agustus 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di mata Duterte, Abu Sayyaf adalah kelompok bandit berkedok militan. Mereka membunuh warga sipil tanpa alasan dan sejak awal tidak membuka ruang negosiasi.

Dia mengatakan, jika Abu Sayyaf dibiarkan maka dalam tiga sampai tujuh tahun ke depan, Filipina akan mulai punya persoalan dengan ISIS. Makanya, dia siap berhadapan dengan Abu Sayyaf.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut