Geger Deklarasi Kekerasan ala Presiden Duterte
- REUTERS/Presidential Palace Photo/Handout via Reuters
![]()
Presiden Duterte saat mengunjungi korban ledakan bom di sebuah rumah sakit kota Davao (Reuters.com)
“Keadaan politik dan keamanan Filipina saat ini relatif tidak stabil. Duterte berusaha me-restore order (mengembalikan tatanan pemerintahan yang cocok untuk diterapkan). Memang ini butuh waktu dan tidak semudah membalikkan telapak tangan,” papar dia.
Tak hanya narkoba dan Abu Sayyaf, Duterte juga dihadapkan oleh masalah yang tak kalah beratnya. Korupsi yang sudah masuk ke sendi-sendi negara serta tekanan di Laut China Selatan, turut menambah “daftar belanja” Duterte untuk segera diselesaikan selama enam tahun masa pemerintahannya.
Kendati demikian, Emil mengungkapkan kalau Duterte tidak akan dimakzulkan (impeachment) seperti yang terjadi di Brasil dan Venezuela. Sebab, menurut dia, meski terkesan “barbar” dalam menegakkan aturan, tetapi apa yang dilakukan Duterte saat ini persis apa yang dikampanyekan dahulu.
“Rakyat Filipina sudah melihat hasil kerjanya, walau baru permulaan. Militer pun ada di belakang Duterte. Asalkan kekerasan diikuti dengan penegakan hukum, saya melihat posisinya aman sampai akhir jabatan,” ujar Emil.
Kepolisian Nasional Filipina kini memiliki tiga orang pelaku, dua perempuan dan satu pria, yang diduga kuat sebagai pelaku peledakan bom. Kepala Polisi Nasional Filipina, Direktur Jenderal Ronald "Bato" Dela Rosa, mengatakan, pihaknya tengah mengejar tiga orang tersebut.
"Saksi juga bilang kalau ketiga pelaku meninggalkan bom yang dikendalikan melalui alat peledak (Explosive Ordnance Disposal/EOD)," kata Dela Rosa.
Meski begitu, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut dari ketiga pelaku. Ia juga enggan menjawab apakah ketiganya masih ada di kota Davao atau sudah kabur.
Dela Rosa juga menduga bahwa daya ledakan bom ini sangat mirip dengan IED yang dibawa oleh tersangka teroris yang masih buron, Abdul Manap Mentang, dalam pemboman di Hari Kasih Sayang (Valentine) dari Ecoland Terminal Davao pada 2005 silam.
![]()
Empat Petugas SAR Filipina tengah mengangkut mayat akibat ledakan bom di kota Davao (Reuters.com)