Pamor Sedan Turun, Siapa yang Untung?
- VIVA.co.id/M. Ali. Wafa
Menurut Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto, pasar sedan saat ini hanya sebanyak dua persen dari total market mobil di Indonesia.
Jika pajak sedan turun, diharapkan pasar sedan naik menjadi 20 persen. “Tapi, itu tentu bertahap, di tahun pertama dan berikutnya,” kata Jongkie beberapa waktu lalu.
Saat ini, Gaikindo masih melakukan kajian soal penurunan tarif tersebut. Kajian ini diperlukan untuk menentukan, apakah penurunan pajak sedan layak atau tidak.
"Studinya lagi berjalan. Ada permintaan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kalau itu diterapkan, dampak positif dan negatifnya seperti apa. Ini sedang kita kerjakan," kata Ketua Umum Gaikindo, Yohanes Nangoi kepada VIVA.co.id.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kemenperin, Yan Sibarang mengungkapkan, pemerintah akan mendalami usulan penurunan tarif pajak mobil sedan, bila diajukan secara resmi oleh Gaikindo.
"Kita tunggu saja. Kalau ada (permintaan resmi), akan kita kaji, karena ini kan menyangkut kebijakan," kata Yan saat dihubungi VIVA.co.id.
Menurutnya, Gaikindo harus memastikan dampak dari kebijakan penurunan tarif pajak mobil sedan ke depannya. Sebab, hal tersebut akan memengaruhi pemasukan negara.
"Kalau kita menurunkan pajak 30 menjadi 10 persen, pasti ada kehilangan yang dialami negara. Tapi, kita harus yakinkan, menghilangkan sekian malah mendatangkan yang lebih besar," ungkapnya.
Selanjutnya...pajak turun, ekspor mobil naik
Penurunan pajak sedan, dikatakan Jongkie, tidak hanya berdampak pada penjualan di Indonesia saja, namun juga pemasukan dari investasi asing dan ekspor.
Ia meyakini, jika pemerintah menurunkan pajak sedan, hal itu akan menarik investor untuk berinvestasi, sehingga bisa menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
"Yang pasti, dengan itu (penurunan tarif pajak), kita punya kesempatan ekspor yang lebih besar. Buat apa kenakan tarif 30 persen, tapi penjualannya sedikit,” ungkapnya.
Menurut dia, pabrikan mobil di Tanah Air saat ini hanya bisa menawarkan ekspor MPV, karena Indonesia telah menjadi basis untuk produksi model tersebut.
"Sedangkan dunia, pasarnya masih sedan dan SUV. Jadi, sekarang ini kita hanya jago kandang, karena MPV laku keras di domestik saja," kata dia.